Minggu, 07 Maret 2021

Merebaknya Hoax, Narasi Kebencian, Penipuan, dan Cyberbullying adalah Tanda Rendahnya Literasi Digital Kita

Era digital mengharuskan masyarakat hidup dalam ruang nyata dan alam maya. Tetapi jauh menjadi sangat ironis ketika angka konsumsi gadget tinggi, durasi berinternet tinggi tetapi literasi digital masyarkat Indonesia sangat rendah.

Kondisi tersebut menjadi perhatian Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan (RPK ) Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPP IMM). Bahkan, menurutnya daya saing digital Indonesia berada di posisi terendah di Asia. Data ini dikutip dari laporan yang dirilis oleh We Are Social and Hootsuite pada Januari 2020.

“Hal ini menunjukkan masyarakat kita sedang mengalami krisis literasi digital. Merebaknya hoax, narasi kebencian, radikalisme, cyberbullying, penipuan menjadi pertanda krisis digital tengah meliputi masyarakat Indonesia,” kata Ahmad Sholeh, pada Kamis (4/3/2021).

Mengutip penelitian Microsoft yang menyebutkan netizen Indonesia paling tidak beradab se-Asia Tenggara turut menjadi perhatian Sekretaris Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan DPP IMM ini. Menurutnya, hal ini merupakan bukti kegagalan pengguna internet di Indonesia.

“Harusnya di media sosial apapapun menjadikan masyarakat kita tetap mengedepankan keadaban karena keadaban tersebutlah yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya,” kata Soleh.

Menyikapi kondisi tidak beradabnya netizen, Soleh menyarankan pentingnya literasi digital. Menurutnya literasi digital bukan hanya seperangkat keahlian dalam mengoperasikan alat-alat penunjang teknologi seperti komputer, laptop, gadget dan akses internet.

“Mengutip Jones dan Hafner, literasi digital berarti menggunakan alat-alat teknologi itu untuk melakukan sesuatu dalam konteks kehidupan sosial,” tuturnya.

Dalam kaitan dakwah Muhammadiyah dan IMM, Soleh mengatakan ada empat urgensi dakwah digital. Pertama urgensi informasi, dimana literasi digital merupakan hal dasar untuk bisa menangkap, mencerna, mengolah dan menyebarkan informasi.

Kedua, urgensi dakwah, menurutnya di era digital tantangan dakwah kian kompleks maka kader Muhammadiyah khususnya IMM perlu menggunakan media digital untuk menebarkan narasi Islam yang rahmatalil ‘alamin.

Ketiga, urgensi sosial. Menurutnya, kegiatan sosial campaign, aksi sosial, funraising merupakan kegiatan amal sosial yang bisa dilakukan kader Muhammadiyah lewat digital. Keempat adalah literasi digital dibutuhkan untuk memasigkan gerakan Muhammadiyah untuk kebaikan.

“Medium digital menjadi ruang membangun gerakan yang lebih masif dan struktur untuk kebaikan,” katanya.



0 komentar:

Posting Komentar