Selasa, 02 Maret 2021

Memahami Bencana dari Sudut yang Berbeda

 

Sebuah tulisan yang ditulis oleh : Diko Ahmad Riza Primadi, yang membahas tentang bencana dari sudut yang berbeda, tulisan sangat diperlukan bagi kita untuk memahami tentang fenomena bencana yang terjadi di sekitar kita. Tulisan ini bisa dikatakan sebagai pembuka memahami Fiqih Kebencanaan sembari tetap melakukan upaya-upaya pengurangan risiko bencana yang mungkin terjadi. 

Selamat membaca.


Memahami Bencana dari Sudut yang Berbeda 

Di awal tahun 2021 banyak terjadi bencana. Bencana awal tahun yang datang secara beruntun. Mulai dari gempa susulan yang masih terjadi di Majene, Sulawesi Barat. Di sebagian wilayah Kalimantan Selatan, banjir juga belum sepenuhnya surut. Belum selesai dengan dua tragedi alam tersebut, gunung Semeru menggeliat, memuntahkan awan panas. Belum lagi jika ditambah dengan musibah non alam, petaka Pesawat Boeing 737-500 classic PK-CLC yang dioperasikan maskapai Sriwijaya Air jatuh di perairan Kepulauan Seribu dan menewaskan 62 orang.

Berbagai media nasional hingga lokal menulis headline beritanya dengan judul “Darurat Bencana”, disertai dengan foto yang mengerikan dan menyedihkan di halaman depan. Tidak ada satupun dari mereka (media) yang melihat bencana alam maupun non alam dari sisi yang berbeda selain ketakutan, azab, petaka, siksa, kecerobohan manusia, dan aspek alam.

Sangat jarang bahkan tidak ada yang mengkaitkan bencana tersebut dengan kasih sayang Tuhan. Hal ini dikarenakan mereka tidak memahami bagaimana cara Tuhan berdialektika dengan manusia melalui perantara alam semesta. Sebenarnya hal ini sudah banyak dijelaskan di dalam Al-Qur’an, bahwa semua makhluk berzikir kepada-Nya. Mereka (manusia) juga tidak menyadari bahwasannya gunung, air, angin, api, bumi, batu, dan tanaman juga berbicara seperti layaknya manusia.

Jika mereka mampu memahami bahasa alam, mungkin akan lain beritanya. Bukan lagi soal bencana, luka, duka, atau kerugian material. Melainkan, karena rasa sayang, Tuhan memanggil manusia dengan cara menyuruh air, gunung, angin, tanah, atau api untuk menjemput manusia ke pangkuan-Nya. Karena dunia bukanlah rumah yang abadi untuk mereka. 

Maka beruntunglah mereka yang selama hidup atau di akhir hidupnya bertaubat dan kemudian mengerjakan kebajikan. Tuhan berfirman, “Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam surga-Ku (QS. Al-Fajr ayat 27-30).

Lalu bagaimana dengan mereka yang mati tanpa sempat bertaubat dan melakukan kerusakan. Tuhan pasti punya jawaban dan keputusan yang sangat bijaksana. Karena hanya Dialah yang Maha Adil lagi Bijaksana. Pasti tidak akan ada satupun keputusan-Nya yang akan merugikan manusia. Semua sesuatu akan sesuai dengan takarannya.

Di sisi yang lain, selain perhitungan, sejatinya Tuhan suka bercanda dan penuh kejutan kepada hambanya. Tidak semua firman yang dikeluarkan-Nya selalu tentang pahala, azab dan siksa. Ia telah mengingatkan kita bahwa dunia adalah tempat bermain dan bersenda gurau. Namun Ia juga menyuruh kita untuk bersungguh-sungguh dalam menjalani hidup di dunia. Artinya kita harus benar-benar bisa, dengan sungguh-sungguh menertawakan atau mensyukuri segala duka, penderitaan, dan bencana, tanpa harus bertanya kenapa Tuhan melakukan ini semua. Karena sejatinya Tuhan sedang membersihkan dosa kita.




Sumber : https://www.suaramuhammadiyah.id/2021/03/02/memahami-bencana-dari-sudut-yang-berbeda/

0 komentar:

Posting Komentar