One Muhammadiyah One Response (OMOR)

Diskusi di Lokasi Bencana Desa Gembuk untuk mematangkan konsep OMOR di Pacitan'

Relawan Muhammadiyah Pacitan

TDRR Tanah Longsor Desa Gembuk Kec. Kebonagung

Dusun Jajar Desa Sempu Kec. Nawangan

Menanam adalah Sedekah

Sarasehan 14 September 2021'

“Pengurangan Risiko Bencana Berbasis Komunitas”

Kamis, 25 Maret 2021

Senyum Bersama Meratus, Menjaga Ekologi Sejak Usia Dini

 

Suara ini datang dari dalam rimba. Kami sepakat bahwa kegiatan menanam pohon adalah salah satu bentuk kasih secara langsung kepada Ibu bumi, menanamkan benih-benih hal kebaikan, baik untuk kelangsungan setiap makhluk hidup di muka bumi. Kami yakin dengan sebuah konsep hidup bahwa apa yang saat ini kita tanam akan kita tuai di peradaban yang akan datang, didapati dan dinikmati antar generasi. Menanam bagi kami adalah salah satu cara melawan, melawan terhadap keserakahan makhluk hidup yang bernama “manusia” yang tidak bertanggung jawab. Menjaga alam adalah menjaga kehidupan.

Sambil mengepalkan tangan deretan kalimat diatas diteriakkan dengan semangat oleh relawan Febri dari Universitas Lambung Mangkurat disela penanaman pohon sebagai salahsatu rangkaian program psikososial  Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Kalimantan Timur bersama Kapstra UGM dan Sahabat Misykat Indonesia  beberapa waktu yang lalu (13-19 Maret) yang diikuti 125 peserta baik anak-anak peserta psikososial maupun relawan pendamping.

Menarik jika menyimak Trilogi Pelayanan Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (KOKAM)  yang ditulis Iwan Setiawan, M.Si sekertaris Kokam Nasional dalam buku Kemanusiaan, Kebencanaan dan Ekologi (hal. 23).  Salahsatu diantaranya adalah KOKAM dan urusan Ekologi. Islam sebagai agama yang ramah terhadap lingkungan/ekologi.

Dalam Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM) terkandung pesan menjaga lingkungan. Poin yang pertama dalam PHIWM berkaitan dengan lingkungan: Lingkungan hidup merupakan anugerah Allah yang harus dipelihara. “Etika hijau” dalam PHIWM ini perlu kita terapkan dalam kehidupan keseharian. Bumi yang makin tua dan manusia yang semakin serakah menjadikan kerusakan lingkungan yang semakin nyata.

Sementara itu Eko Budi Setiawan, relawan pendamping dari Universitas Lambung Mangkurat mengatakan, “penanaman  pohon bagi saya memiliki sejuta manfaat bagi kelangsungan hidup berbagai makhluk hidup. Beberapa tahun belakangan ini, pesatnya pembangunan menyebabkan banyak pohon ditebang dan dikorbankan. Masyarakat harus disadarkan bahwa hilangnya satu pohon telah memutus mata rantai kehidupan.”

“Harus mulai ditumbuhkan kesadaran memelihara lingkungan semenjak usia dimulai dari hal-hal yang sederhana semisal mengajari anak tidak membuang sampah sembarangan dan mengupayakan daur ulang sampah untuk menjadi sesuatu yang bermanfaat,” lanjut Eko Budi Setiawan.

Anak-anak bersemangat, berkelompok dipandu para relawan gabungan yang murah senyum dan mempunyai banyak ice-breking menumbuhkan semangat bagi peserta psikososial, diantaranya; Thoriq, Febri, Mamad, Adi, Jawad, Zainal, Fikri, Anis, Lia, Icha, Mega, Asrul, Yuli dan Mahrita.

Ada nilai dan pesan yang ingin disampaikan dalam penanaman pohon ini. Menyelamatkan ekologi bagi generasi mendatang. Tidak bisa dipungkiri, banjir bandang sekitar Meratus bisa jadi karena pohon-pohon mulai ditebang tanpa perencanaan.

Ada kekompakan anak-anak yang penuh keceriaan bersama teman-temannya menanam harapan, agar bumi terus memberi udara yang segar.  Tangan-tangan mungil menanam pohon, menyelamatkan ekologi yang diabadikan dalam jepretan relawan Kapstra UGM, Javas dan Agnur. Dokumentasi yang bisa jadi sekian tahun kedepan akan mengingatkan bahwa hari itu aku telah menanam pohon dan hari ini aku masih menikmati segarnya alam nan asri.

Bukankah Rasulullah SAW pernah berpesan, “ Jika terjadi hari kiamat sementara di tangan salah seorang dari kalian ada sebuah tunas, maka jika ia mampu sebelum terjadi kiamat untuk menanamnya maka tanamkanlah.” (HR. Bukhari dan Ahmad).

Demikian pula dalam al-Jami al-Kabir karya al-Suyuti dikatakan oleh Umar bin Khattab kepada seseorang tua renta, “Apa yang menghalangimu untuk menanam lahanmu?”  Jawab orangtua itu, “Aku tua renta yang akan mati besok.’  Umar berkata, “Kuyakinkan kau harus menanamnya.”

Tugas kita merawat bumi, Ekologi yang akan dihuni generasi yang tidak menyesali karena kita tidak peduli pada bumi.

Machnun Uzni, Penanggung jawab Psikososial MENCARI Kaltim



Sumber : https://suaramuhammadiyah.id/2021/03/25/senyum-bersama-meratus-menjaga-ekologi-sejak-usia-dini/

Rabu, 24 Maret 2021

AMBYAR AE, Metode Bantuan Henti Jantung – Nafas Karya Dosen UMP Dipatenkan


Dosen Universitas Muhammadiyah Purwokero (UMP), Banyumas Jawa Tengah Endiyono berkolaborasi dengan Yudha H Utomo dari IGD RS Soetomo Surabaya mematenkan Modul Panduan Alogaritma Bantuan Hidup Dasar Metode AMBYAR AE.

Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan Endiyono mengatakan, untuk memudahkan dalam urutan-urutan Bantuan Hidup Dasar (BHD) bersama Yudha H Utomo dari IGD RS Soetomo Surabaya berkolaborasi membuat inovasi modul pembelajaran Alogaritma BHD dengan AMBYAR AE.

“Metode AMBYAR AE merupakan kepanjangan dari A : Aman diri sendiri, lingkungan dan pasien, M : Menepuk bahu korban umtuk memeriksa respon korban, B : Berusaha meminta bantuan medis/ambulans, Y : Yakinkan nadi karotis tidak teraba, A : Amati dan perhatikan pergerakan dada, R : Resusitasi Jantung Paru diberikan jika korban tidak teraba nadi dan tidak bernafas, A : Automatic External Defibrillator (AED) diambil segera jika tersedia, dan E : Evaluasi respon dilakukan setiap 2 menit,” jelas Endiyono, Selasa (24/3/2021).

Dijelaskan, mnemonic berasal dari bahasa Yunani, “Mnemosyne”, yang berarti Dewi Memori. Yang dimaksud Mnemonic adalah menghafalkan sesuatu dengan bantuan. “Bantuan tersebut bisa berupa singkatan, pengandaian dengan benda, atau “linking”, mengingat sesuatu berdasarkan hubungan dengan suatu hal lain,” jelasnya.

BHD atau Basic Life Support (BLS), lanjut Endiyono, adalah sekumpulan rangkaian tindakan yang dilakukan bertujuan untuk merangsang, mengembalikan dan mempertahankan fungsi jantung maupun paru pada korban henti jantung dan henti nafas.

“Tindakan ini terdiri dari pemberian kompresi dada dan bantuan pernafasan. Penggunaan metode AMBYAR AE memudahkan untuk mengingat urutan-urutan dalam melakukan Resusitasi Jantung Paru,” pungkasnya. (tgr)



Sumber : https://suaramuhammadiyah.id/2021/03/24/ambyar-ae-metode-bantuan-henti-jantung-nafas-karya-dosen-ump-dipatenkan/

Membentuk Relawan Bencana Sebagai Upaya Penanggulangan Bencana

 

Pada hari Minggu, 21 Maret 2021 lalu berlangsung pembentukan dan pembekalan relawan Muhammadiyah di Desa Papringan, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus. Sebanyak 48 orang dikukuhkan menjadi anggota tim relawan yang diberi nama Benteng Kulon tersebut.


Pembentukan dan pembekalan tim relawan Benteng Kulon tersebut mendapat dukungan penuh dari Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Kabupaten Kudus bahkan dihadiri langsung oleh Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Kudus, Budi Waluyo.

Nor Khabibi, penggagas dan sekaligus Ketua Benteng Kulon saat dihubungi bercerita banyak tentang tim yang dipimpinnya itu. “Benteng Kulon adalah tim relawan Muhammadiyah ranting Papringan yang dibentuk karena tuntutan kondisi Desa Papringan dan Kecamatan Kaliwungu yang punya kerawanan bencana” katanya.

Desa Papringan khususnya dan Kecamatan Kaliwungu umumnya menurut Khabibi, setiap tahun dibayangi dengan dua ancaman bencana yang rutin dialami. “Desa Papringan setiap tahun alami kekeringan, sedangkan Kecamatan Kaliwungu secara umum selain kekeringan juga banjir. Itu terjadi silih berganti tiap tahun, inilah yang kemudian membuat kami berinisiatif membentuk tim relawan Benteng Kulon,” ujarnya.

Tentang nama Benteng Kulon, Nor Khabibi menjelaskan bahwa nama tersebut dipilihnya terinspirasi dari letak geografis Desa Papringan. “Desa Papringan ini terletak di sisi paling barat Kabupaten Kudus dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Jepara. Kami berharap tim relawan ini menjadi benteng saat terjadi bencana di sisi barat (kulon) Kabupaten Kudus, makanya kami namakan Benteng Kulon,” jelasnya.

Anggota Benteng Kulon terdiri dari jamaah Muhammadiyah Ranting Papringan yang berasal dari berbagai unsur yaitu anggota Pimpinan Ranting, Pemuda Muhammadiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dan warga Muhammadiyah Ranting Papringan dengan beragam profesi sehari-hari.

Dalam pembekalan yang digelar di Aula Madrasah Diniyah Mujahidin tersebut, para peserta mendapat pembekalan materi tentang kebencanaan secara umum, teknik-teknik penanganan darurat bencana dan OMOR (One Muhammadiyah One Response). Para pemateri adalah Kalak BPBD, Budi Waluyo dan dua personil MDMC Kabupaten Kudus yaitu Satriyo Yudho dan Fathul Faruq.

Muhammadiyah sendiri sudah lama hadir di Desa Papringan, Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Papringan, Edi Bambang membenarkan hal tersebut. “PRM Papringan sudah berdiri lama yaitu sejak tahun 1970 dan saat ini ada sekitar 500 jamaah Muhammadiyah,” katanya.

Kini, menurut Edi Bambang, PRM yang dipimpinnya mempunyai beberapa Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang menopang jalannya organisasi. “Saat ini kami mempunyai satu Madrasah Diniyah Mujahidin, satu Kelompok Bermain Aisyiyah, satu TK Aisyiyah, 2 masjid dan 1 mushola,” ujarnya.

Terkait dengan keberadaan relawan Benteng Kulon, Edi Bambang mempunyai harapan para relawan Benteng Kulon mampu menjadi kader persyarikatan di bidang penanggulangan bencana yang handal. “Dengan kemampuan dan keterampilan yang dimiliki, semoga kader Muda Muhammadiyah Papringan siap dan sanggup dalam menghadapi berbagai macam situasi bencana,” pungkasnya.






Kamis, 18 Maret 2021

Sinergitas Lazismu Kalasan dan Pakem untuk Warga Turgo

 

Lazismu kantor Layanan Kapanewon Kalasan dan Kapanewon Pakem bersinergi dalam Tasyaruf bersama kepada warga dusun Turgo Purwobinangun Pakem Sleman yang terdampak Covid-19 dan juga erupsi gunung Merapi. Kegiatan ini berlangung pada Rabu 17 Maret 2021 di Area Turgo Resort dengan melibatkan segenap pengurus PCM, PCA Pakem, KOKAM serta PRM Purwobinngaun II.

Marzuki S.Sos, selaku Ketua PCM Pakem dalam kesempatan itu menyampaikan “ betapa di tengah kondisi pandemi dan erupsi Merapi yang dialami saudara kita tentunya perlu melakukan koordinasi terhadap berbagai komponen untuk bisa bersama berdaya dan menanggulanginya hal ini nampak dari kerjaama dengan sauasara kita dari Pakem yang berempati dengan kondisi di lereng Merapi kususnya di Turgo” tandasnya.

Panewu Kalasan Siti Anggraeni SP, SH dalam kala itu menyampaikan 198 paket sembako yang berasal dari Lazismu Kalasan, “ harapan kami meskipun sedikit semoga bisa membawa kemanfaatan kepada warga Turgo dan sekitarnya yang terdampak Covid 19 dan juga erupsi Merapi dan semoga semua hal itu bisa menjadikan kita semua mengambil hikmah dibalik kesuliitan ini agar menjadi insan yang lebih bisa mendekatkan diri kepada Sang Pencipta-Nya”.

Sementara PCA Kalasan melalui ibu Hj. Siti Nurdiati juga menyampaikan paket alat tulis dan ATK kepada KBTK Aisyiyah Nurul Hikmah Tritis dan TK Indriyasana yang diterimakan kepada Ketua PCA Pakem Sumarah S.Pd.

Sementara dari Lazismu PDM Sleman menyampaikan dua paket data kepada SD, Muhammadiyah 2 Pakem di Ngepring dan SD Sanjaya Tritis untuk kelabncaran kegiatan daring bagi sekolah selama pandemi.

Sementara Panewu Pakem S.Sos, menyampikan apresiasi dan terima kasih atas berbagai bantuan untuk warga Turgo dan semoga paket sembako ini bisa memberi manfaat kepada para mustahik yang terdampak pandemic covid dan sekaligus Erupsi. (Arif Hartanto).


Sumber : https://suaramuhammadiyah.id/2021/03/18/sinergitas-lazismu-kalasan-dan-pakem-untuk-warga-turgo/

Lazismu-MDMC Jatim Bantu Perahu Karet untuk Banjir Gresik

Lazismu-MDMC Jatim bantu perahu karet untuk banjir Gresik. Ketua Lazismu Jatim drh Zainul Muslimin menyerahkan perahu karet kepada Ketua MDMC Jatim M Rofii, Selasa (16/3/2021).

Selanjutnya perahu karet diserahkan kepada Ketua Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Gresik Fatchur Rahman di lokasi banjir Cerme Kabupaten Gresik.

Menurut M Rofii, MDMC Jatim menyerahkan dua bantuan dari Lazismu Jatim. Yakni dua unit perahu karet beserta perlengkapannya dan 250 nasi kotak di daerah Cerme.

“Kita juga membagikan 130 paket beras dan sembako yang merupakan sumbangan dari perusahaan-perusahaan di Gresik lewat Posko MDMC dan Lazismu,” ujar Ketua MDMC Jatim itu.

“Sebagian bantuan sembako didistribusikan hari Selasa dan sisanya pada Rabu (17/3/21) karena waktu sudah sore,” tambahnya.

Posko SMKM 8 Gresik

Lazismu dan MDMC, lanjutnya, membuka posko kemanusiaan di SMK Muhammadiyah 8 Cerme Gresik.

“Posko Lazismu-MDMC dibuka mulai Selasa karena peningkatan debit air yang tinggi. Dikabarkan ada tanggul jebol lagi. Rata-rata ketinggian air di jalan 60-100 cm,” ungkapnya.

Berbeda dengan daerah lain, sambungnya, di lokasi banjir Cerme tidak ada warga yang mengungsi. Warga sudah terbiasa menghadapi banjir tahunan. Mereka bertahan di rumahnya masing-masing.

Kebutuhan Darurat dan Distribusi Logistik

Perahu karet, menurutnya, difungsikan untuk pelayanan warga yang sifatnya darurat dan pendistribusian logistik seperti sembako, makanan siap saji dan lainnya.

“Memang ada dua perahu karet difokuskan untuk bencana banjir Gresik karena di sana belum ada relawan lain selain relawan MDMC dan Lazismu, jelasnya.

“Satu unit perahu karet dihibahkan kepada MDMC Gresik, sedangkan satu unit perahu karet lainnya statusnya dipinjamkan. Mudah-mudahan bisa dimanfaatkan seoptimal mungkin,” imbuhnya.

MDMC, ungkapnya, juga dibantu siswa-siswi SMKM 8 Gresik untuk pelayanan pendistribusian bantuan.

Sementara ini MDMC belum menerjunkan tim medis. Jadi sementara hanya melayani bantuan untuk warga terdampak.

“Mudah-mudahan segera surut. Biasanya banjirnya agak lama sekitar 2-3 hari. Banjir saat ini sudah 3 hari. Semoga tidak lebih lama karena tanggul Sungai Lamong jebol. Sementara akses ke lokasi banjir ditutup karena tidak bisa dilalui oleh kendaraan kecil maupun besar,” paparnya.

Mobil Dapur Umum

Sementara itu Zainul Muslimin menyampaikan Lazismu Jatim sengaja memesan 3 perahu karet ke Bandung karena pengalaman menunjukkan perahu karet sangat dibutuhkan ketika ada bencana banjir.

“Banyak sekali fungsinya. Bisa untuk evakuasi warga, distribusi bantuan, distribusi makanan siap saji dan lainnya. Maka daerah-daerah yang sering kebanjiran sebaiknya menyiapkan perahu karet,” harapnya.

Lazismu, lanjutnya, juga sedang merancang untuk pengadaan mobil dapur umum. Ini juga sangat dibutuhkan ketika terjadi bencana apapun.

“Lazismu ingin begitu ada bencana maka semua kekuatan di daerah cepat bergerak. Warga terdampak bencana butuh bantuan yang cepat. Maka dengan mobil dapur umum bantuan pangan bisa sangat cepat tersalurkan,” tuturnya. (*)


Penulis Sugiran. Editor Mohammad Nurfatoni.


Sumber : https://pwmu.co/183401/03/17/lazismu-mdmc-jatim-bantu-perahu-karet-untuk-banjir-gresik/

Relawan Muhammadiyah Dompu Layani Warga Terdampak Banjir di Hu’u


Dompu - Nusa Tenggara Barat. Pada tanggal 28 Februari dan 9 Maret 2021 yang lalu banjir bandang melanda tiga desa di Kecamatan Hu’u, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat. Ketiga desa itu adalah Desa Daha, Marada dan Rasabou. Berdasarakan catatan relawan MDMC dari hasil assesmen di lapangan, banjir bandang menyebabkan 13 rumah hanyut, 44 lagi rusak berat dan 144 rusak sedang serta ringan. 

Menyikapi banjir tersebut, relawan Muhammadiyah Dompu yang terdiri dari personil MDMC, Pemuda Muhammadiyah, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Nasyiatul ‘Aisyiyah, Kokam dengan dukungan dari jajaran Pimpinan Daerah Muhammadiyah dan Aisyiyah Kabupaten Dompu melaksanakan respon tanggap darurat untuk membantu warga yang terdampak. 

Relawan Muhammadiyah Dompu mendirikan pos koordinasi yang terletak di Sekretariat Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Dompu, Jalan KH. Ahmad Dahlan dan pos pelayanan yang terletak di Jalan Lintas Lakey, Desa Daha, Kecamatan Hu’u. 

Julkifli, Koordinator Tanggap Darurat MDMC Dompu mengatakan sejak awal terjadinya banjir, relawan Muhammadiyah Dompu sudah membantu evakuasi warga terdampak. “Selain itu kami juga menyalurkan bantuan logistik, melaksanakan layanan psikososial, pembersihan lingkungan, bersama dengan PMI mendirikan hunian darurat, layanan pemeriksaan kesehatan dan pendidikan,” katanya. 

Menurut Julkifli, hingga kini layanan tersebut masih terus dijalankan meskipun sudah dua pekan lebih banjir pertama terjadi. “Dengan segala kemampuan dan keterbatasan yang ada, kami berusaha semaksimal mungkin membantu warga. Modal utama para relawan kami adalah semangat untuk membantu meringankan beban warga” imbuhnya. 

Berdasarkan laporan situasi yang disusun MDMC Dompu, kebutuhan yang masih diperlukan untuk membantu warga saat ini meliputi bahan makanan baik untuk orang dewasa maupun anak-anak/balita, pakaian baru untuk semua umur, perlengkapan bayi/balita, kebutuhan perempuan, hygiene kit, tandon air, paket peralatan belajar, bahan bangunan untuk renovasi rumah warga, MCK dan layanan medis. 

Untuk penerima manfaat dari respon tanggap darurat relawan Muhammadiyah, Julkifli menyampaikan jumlahnya mencapai ratusan, meliputi berbagai macam layanan. “Untuk pelayanan medis ada 142 jiwa penerima manfaat, psikososial 68, air minum 250, pembelajaran 30, pembersihan rumah 15 KK (sekitar 45 jiwa) dan distribusi logistik meliputi 20 tikar, makanan siap saji 250 paket, paket belajar 10 paket, pakaian 150 lembar, paket sembako 300,” ungkapnya. 

Meskipun sudah melaksanakan beberapa macam layanan dan mendistribusikan bantuan namun karena ada warga yang rumahnya hanyut total dan rusak berat maka Julkifli menyatakan bahwa respon tanggap darurat masih akan terus berlangsung. 

“Tentu butuh waktu panjang untuk memulihkan kondisi warga, kami berusaha semaksimal mungkin membantu mereka. Namun, warga dan kami relawan yang membantu mereka juga membutuhkan dukungan baik sumber daya manusia maupun bantuan logistik untuk jangka panjang,” pungkasnya. (Tim Media MDMC)

Foto : Layanan kesehatan gratis bagi warga terdampak banjir oleh relawan Muhammadiyah Dompu dan tenaga medis RS PKU Muhammadiyah Bima, NTB yang dilaksanakan Minggu (14/03/2021). Relawan Muhammadiyah Dompu masih terus membantu warga hingga kini.


Sumber : https://www.facebook.com/be.r.mdmc

Selasa, 16 Maret 2021

Bantu pemulihan pasca banjir , MDMC kota Banjarmasin terjunkan relawan ke Hulu Sungai Tengah


Proses pemulihan pasca banjir di Kalimantan Selatan masih terus berlangsung, terutama di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST). Kegiatan ini mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, salah satunya adalah Muhammadiyah Disaster Management Centre (MDMC) Kota Banjarmasin yaitu dengan mengirimkan relawan untuk melaksanakan beberapa kegiatan di kabupaten tersebut pada Jumat sampai Ahad (5-7/03) lalu.

Fahmi Idris Tanjung selaku Ketua MDMC Kota Banjarmasin menyampaikan bahwa pihaknya mengirimkan relawan sebagai bagian dari ikhtiar membantu daerah di luar Kota Banjarmasin yang terdampak bencana.

“Pengiriman relawan Muhammadiyah Kota Banjarmasin sejumlah 26 orang kali ini sebagai cara kami dalam memberikan bantuan berupa tenaga, karena menurut informasi yang kami terima saat ini MDMC HST sedang melaksanakan masa pemulihan pasca bencana banjir,” terangnya.

Fahmi menambahkan bahwa pengiriman relawan kali ini dilakukan karena bencana banjir yang melanda beberapa desa di HST cukup besar.

“Pengiriman relawan ke HST merupakan pilihan yang tepat menurut kami karena bagaimanapun beberapa desa di daerah sini mendapatkan dampak yang sangat hebat, maka kami beranggapan perlunya untuk ikut membantu dalam hal pasca banjir.

Sejujurnya kami sudah jauh-jauh hari ingin mengirimkan relawan namun pada saat bersamaan di daerah kami sendiri yakni Kota Banjarmasin sedang terjadi banjir juga, maka kami menyelesaikan tugas di Kota Banjarmasin terlebih dahulu,” tambahnya.

Secara khusus Fahmi menerangkan pula terkait beberapa kegiatan yang dilakukan oleh para relawan selama tiga hari di lokasi.

“Alhamdulillah kami berkesempatan melakukan beberapa kegiatan, di antaranya bakti sosial di Desa Papagaran dengan mengikuti gotong royong bersama relawan dari HST untuk membersihkan atau memperbaiki jalan yang menuju desa karena kondisi jalan sangat sulit untuk dilewati, apalagi jika hujan turun keadaan cukup memprihatinkan. Kami kebetulan sempat merasakan sendiri, selain itu juga membantu pengecatan PAUD Terpadu Aisyiyah Mawaddah Barabai,” tuturnya.

Terakhir Fahmi mengharapkan Muhammadiyah melalui MDMC dapat terus membantu masyarakat yang terkena musibah secara cepat dan tepat. “Pada prinsipnya MDMC sebagai bagian dari Muhammadiyah tentu terus berusaha membantu masyarakat yang terdampak bencana dengan cepat dan tepat. Hal tersebut bisa kita lihat sendiri melalui kegiatan-kegiatan MDMC saat banjir.

Pada saat ini khususnya daerah HST yang menjadi perhatian utama karena sampai saat ini kita (Muhammadiyah) termasuk yang masih bertahan untuk membantu warga, bahkan di beberapa desa mendapat kepercayaan untuk membantu mendirikan hunian tetap,” tutupnya.

Sementara itu, Koordinator Pos Pelayanan MDMC Kalimantan Selatan di HST, Erie Norahman menjelaskan bahwa keberadaan relawan MDMC Kota Banjarmasin sangat membantu dalam proses pemulihan pascabanjir dengan beberapa kegiatan yang dilakukan.

“Untuk kegiatan MDMC Kota Banjarmasin kemarin yang pertama membantu TK Aisyiyah Mawaddah untuk perbaikan alat-alat permainan dengan mengecat kembali alat-alat permainan yang ada. Kemudian pada hari kedua (Ahad) relawan membantu masyarakat Papagaran untuk perbaikan jalan, karena setelah kejadian banjir bandang terjadi beberapa longsor yang menutupi akses jalan,” ungkapnya.

Ia juga mengucapkan terima kasih atas kedatangan para relawan dari MDMC Kota Banjarmasin ini.

“Terima kasih kepada MDMC Kota Banjarmasin yang sudah membantu kegiatan penanganan bencana yang ada di HST. Dengan adanya bantuan relawan dari MDMC Kota Banjarmasin sangat membantu bagi masyarakat, terutama di Desa Papagaran karena selama ini sangat sulit dilalui oleh kendaraan roda dua dan empat karena akses jalan yang sangat rusak,” ucapnya.

Selain mengirimkan relawan, MDMC Kota Banjarmasin juga menyalurkan bantuan ke Pos Pelayanan MDMC Kalimantan Selatan di HST berupa perlengkapan rumah tangga dan sembako yang dititipkan oleh para donatur yang berada di Banjarmasin melalui Lazismu.

Keberadaan MDMC Kota Banjarmasin sendiri terbilang baru yakni resmi dilantik pada 14 Februari 2021. Sebelumnya, para relawan sudah aktif dalam kegiatan kebencanaan seperti pendirian Pos Pelayanan MDMC Kalimantan Selatan dalam penanggulangan bencana banjir yang berlokasi di Perguruan Muhammadiyah K.H. Ahmad Dahlan dengan melibatkan banyak relawan yang berasal dari perwakilan kader Organisasi Otonom Muhammadiyah. (Mdn/Bon)




Kehadiran MDMC Bak Hujan Rahmat bagi Warga Donggala

 

Sulawesi Tengah. Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) melaksanakan sosialisasi Program DiRiReCS (Disaster Risk Resilience in Central Sulawesi) dan menandatangai nota kesepahaman dalam penanggulangan bencana dengan Pemerintah Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah di Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Donggala, hari ini Senin (15/03/2021).

Hadir dalam acara tersebut Ketua MDMC PP Muhammadiyah, Budi Setiawan, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Donggala, Rustam Efendi, Kepala BPBD Kabupaten Donggala, Akris Fattah Yunus, dan beberapa kepala dinas terkait di lingkungan Pemkab Donggala.

Hadir pula dari MDMC, Koordinator Nasional Program DiRiReCS MDMC, Yocki Asmoro dan Manajer Program DiRiReCS MDMC, Ferry El Shirinja. Koordinator DiRiReCS MDMC, Syaltut, serta sejumlah Fasilitator MDMC. Sementara dari Solidar Suisse Sam Lukas, Senior MEAL Solidar Suisse dan David, Koordinator PRB.

Dalam kesempatan tersebut, Budi Setiawan beserta rombongan mensosialisasikan Program DiRiReCS yang merupakan program bersama MDMC dan Solidar Suisse, sebuah NGO asal Swiss. Program DiRiReCS adalah program pengurangan resiko bencana dan pembentukan desa tangguh bencana di Sulawesi Tengah.

“Alhamdulillah siang hari ini telah berlangsung penandatanganan MoU antara MDMC PP Muhammadiyah dan Pemerintah Daerah Donggala yang diwakili oleh Bapak Sekda. MoU tersebut termuat dalam kerja sama penguatan kapasitas masyarakat yang kami sebut dengan ketahanan kebencanaan dan pengurangan resiko bencana,” katanya.

Menurut Budi Setiawan, pertemuan juga dihadiri oleh beberapa kepala dinas di lingkup Pemkab Donggala yang memberi masukan-masukan agar bisa tercapai integrasi dengan kegiatan pengurangan resiko bencana yang sudah pernah ada.

“Bapak Sekda menyebut kehadiran MDMC seperti sebuah “hujan rahmat”, karena dari yang sudah kami paparkan sangat berharap nanti dari dua puluh satu desa tersebut kalau lima desa saja tercapai dengan baik sesuai dengan indikator-indikator yang telah ditetapkan maka bisa direplikasikan di daerah-daerah lain. Kepala Dinas Pendidikan mengharapkan integrasi dengan program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB),” ungkapnya.

Sementara itu Koordinator Nasional Program DiRiReCS dari MDMC, Yocki Asmoro, maksut Program DiRiReCS adalah dalam rangka mendukung pelaksanaan program Pengurangan Risiko Bencana di Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah.

“Program ini mempunyai tujuan secara berkesinambungan memperkuat keterampilan dan kapasitas teknis dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Donggala dan para pemangku kepentingan terkait,” katanya

Lebih lanjut Yocki menyampaikan tujuan program ini juga agar BPBD dan para pemangku kepentingan terkait dapat menyediakan bantuan teknis dan operasional sebelum, saat dan setelah bencana terjadi, serta mempromosikan praktek-praktek terbaik Penanggulangan Bencana (PB) kepada kabupaten-kabupaten terdekat.

Terkait sasaran program ini yang meliputi 21 desa di 3 kecamatan yaitu Sirenja, Balaesang dan Balaesang Tanjung, Yocki merinci nama desa-desa sasaran. “Dua puluh satu desa tersebut adalah Tondo, Dampal, Jonooge, Tanjung Padang, Sipi, Balentuma, Lompio, Tompe, Lende, Lende Tovea, di Kecamatan Sirenja. Kemudian Meli, Lombonga, Labean di Kecamatan Balaesang dan Walandano, Malei, Kamonji, Rano, Pomolulu, Palau, Ketong, Manimbaya di Kecamatan Balaesang Tanjung,” pungkasnya.


Sumber tulisan/artikel : https://muhammadiyah.or.id/kehadiran-mdmc-bak-hujan-rahmat-bagi-warga-donggala/

Sumber foto : https://www.facebook.com/photo?fbid=10219942215325919&set=pcb.10219942216405946https://www.facebook.com/photo?fbid=10219942215325919&set=pcb.10219942216405946

SIARAN PERS MDMC INDONESIA : MDMC - Pemkab Donggala Tanda Tangani MoU Program Pengurangan Resiko Bencana



Donggala - Sulawesi Tengah. Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) melaksanakan sosialisasi Program DiRiReCS (Disaster Risk Resilience in Central Sulawesi) dan menandatangai nota kesepahaman dalam penanggulangan bencana dengan Pemerintah Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah di Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Donggala, hari ini Senin (15/03/2021). 

Hadir dalam acara tersebut Ketua MDMC PP Muhammadiyah, Budi Setiawan, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Donggala, Rustam Efendi, Kepala BPBD Kabupaten Donggala, Akris Fattah Yunus, dan beberapa kepala dinas terkait di lingkungan Pemkab Donggala.

Hadir pula dari MDMC, Koordinator Nasional Program DiRiReCS MDMC, Yocki Asmoro dan Manajer Program DiRiReCS MDMC, Ferry El Shirinja. Koordinator DiRiReCS MDMC, Syaltut, serta sejumlah Fasilitator MDMC. 

Sementara dari Solidar Suisse Sam Lukas, Senior MEAL Solidar Suisse dan David, Koordinator PRB. 

Dalam kesempatan tersebut, Budi Setiawan beserta rombongan mensosialisasikan Program DiRiReCS yang merupakan program bersama MDMC dan Solidar Suisse, sebuah NGO asal Swiss. Program DiRiReCS adalah program pengurangan resiko bencana dan pembentukan desa tangguh bencana di Sulawesi Tengah. 

“Alhamdulillah siang hari ini telah berlangsung penandatanganan MoU antara MDMC PP Muhammadiyah dan Pemerintah Daerah Donggala yang diwakili oleh Bapak Sekda. MoU tersebut termuat dalam kerja sama penguatan kapasitas masyarakat yang kami sebut dengan ketahanan kebencanaan dan pengurangan resiko bencana,” katanya. 

Menurut Budi Setiawan, pertemuan juga dihadiri oleh beberapa kepala dinas di lingkup Pemkab Donggala yang memberi masukan-masukan agar bisa tercapai integrasi dengan kegiatan pengurangan resiko bencana yang sudah pernah ada. 

“Bapak Sekda menyebut kehadiran MDMC seperti sebuah “hujan rahmat”, karena dari yang sudah kami paparkan sangat berharap nanti dari dua puluh satu desa tersebut  kalau lima desa saja tercapai dengan baik sesuai dengan indikator-indikator yang telah ditetapkan maka bisa direplikasikan di daerah-daerah lain. Kepala Dinas Pendidikan mengharapkan integrasi dengan program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB),” ungkapnya. 

Sementara itu Koordinator Nasional Program DiRiReCS dari MDMC, Yocki Asmoro, maksut Program DiRiReCS adalah dalam rangka mendukung pelaksanaan program Pengurangan Risiko Bencana di Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah. 

“Program ini mempunyai tujuan secara berkesinambungan memperkuat keterampilan dan kapasitas teknis dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Donggala dan para pemangku kepentingan terkait,” katanya

Lebih lanjut Yocki menyampaikan tujuan program ini juga agar BPBD dan para pemangku kepentingan terkait dapat menyediakan bantuan teknis dan operasional sebelum, saat  dan setelah bencana terjadi, serta mempromosikan praktek-praktek terbaik Penanggulangan Bencana (PB) kepada kabupaten-kabupaten terdekat.

Terkait sasaran program ini yang meliputi 21 desa di 3 kecamatan yaitu Sirenja, Balaesang dan Balaesang Tanjung, Yocki merinci nama desa-desa sasaran. “Dua puluh satu desa tersebut adalah Tondo, Dampal, Jonooge, Tanjung Padang, Sipi, Balentuma, Lompio, Tompe, Lende, Lende Tovea, di Kecamatan Sirenja. Kemudian Meli, Lombonga, Labean di Kecamatan Balaesang dan Walandano, Malei, Kamonji, Rano, Pomolulu, Palau, Ketong, Manimbaya di Kecamatan Balaesang Tanjung,” pungkasnya. (Tim Media MDMC).

yogyakarta, 15 Maret 2021

Arif Jamali

Wakil Ketua MDMC PP Muhammadiyah



Sumber : https://www.facebook.com/

Jumat, 12 Maret 2021

MDMC Cetak Aktor Lokal di Bidang Tanggap Darurat dan Krisis Kemanusiaan

 


Muhammadiyah Disaster Managemen Center (MDMC) menggelar Pelatihan Dasar Kebencanaan yang dipusatkan di Restoran Kampung Nelayan Palu, selama tiga hari (11-13 Maret 2021). Diikuti 30 peserta dari Wilayah dan Daerah se-Sulteng, kegiatan ini merupakan bagian dari program peningkatan Kapasitas MDMC se-Sulteng, hasil kerjasama MDMC PP Muhammadiyah dengan Solidar Suisse serta Swiss Solidarity.

Seremoni pembukaan pelatihan dilaksanakan Kamis (11/3/2021) dan dihadiri oleh Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Tengah, Hadi Sucipto serta dilaksanakan dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat untuk mencegah penularan Covid-19.

Saat membuka kegiatan, Hadi Sucipto memberikan apresiasi pelatihan tersebut. Menurutnya, penguatan kelembagaan sangatlah penting dalam peningkatan kapasitas sumber daya MDMC. Dia berterima kasih kepada PP Muhammadiyah melalui MDMC, yang selama ini sangat banyak membantu MDMC Sulteng dalam program-program kemanusiaan.

“Program-program kemanusiaan sangatlah penting untuk terus dilakukan. Maka itulah, saya minta seluruh peserta yang semuanya anak-anak muda ini teruslah mengikuti kegiatan dengan baik dan serius,” tekannya.

Fery eL Shirinja selaku Program Manager dari MDMC mengatakan, Pelatihan Dasar Kebencanaan tersebut, merupakan pelatihan kedua dalam program penguatan kapasitas organisasi mitra lokal di Sulawesi Tengah. “Pelatihan ini bertujuan agar para relawan MDMC siap menghadapi keadaan darurat dan krisis kemanusiaan. Dalam pelatihan ini kami juga menghadirkan tiga fasilitator MDMC PP Muhammadiyah, yakni Naibul Umam, Farul Rozi, dan Yocki Asmoro,” katanya.

Fery menambahkan, direncanakan terdapat 11 pelatihan dalam program penguatan kapasitas ini, yang akan digelar dalam kurun satu tahun, yakni Pengenalan kerja kemanusiaan MEP II dan MDMC ke jaringan Muhammadiyah yang lebih luas yang telah digelar bulan Desember 2020 yang lalu.

Kemudian Pelatihan Dasar Penanggulangan Bencana yang sedang digelar. Lalu ada Pelatihan Perencanaan Strategis yang direncanakan bulan depan. Selain itu, ada juga pelatihan Pedoman Keuangan dan Administrasi Lapangan, pelatihan Sphere Standard, Core Humanitarian Standards and Protection.

“Juga akan digelar pelatihan Manajemen Program Kemanusiaan, pelatihan Sistem Komando Insiden, Pelatihan Shelter, pelatihan Wash, pelatihan Logistik, dan pelatihan Kepemimpinan dalam Keadaan Darurat. Hingga saat ini, memang baru dua kegiatan, yang kita gelar,” jelasnya.

Sementara itu Project Manager Solidar Suisse, Darlis Nasution yang turut memberikan sambutan secara online menekankan bahwa kerjasama Solidar Suisse dan MDMC sudah sangat baik. “Kegiatan ini merupakan bagian penting dalam peningkatan kapasitas MDMC di Sulteng agar saat melakukan respons kebencanaan tentu mengikuti standar internasional,” katanya

Melalui kegiatan tersebut terang Darlis, diharapkan para peserta siap melakukan tanggap darurat dan krisis kemanusiaan local, terlatih untuk melaksanakan tanggap darurat kemanusiaan serta mendukung penyusunan rencana tanggap darurat di wilayah Sulawesi Tengah dan kabupaten/kota se-Sulteng. “Tentu Peserta diharapkan berkomitmen menjadi aktor lokal dalam bidang tanggap darurat dan krisis kemanusiaan jangka panjang,” pungkasnya.



Sumber : https://muhammadiyah.or.id/mdmc-cetak-aktor-lokal-di-bidang-tanggap-darurat-dan-krisis-kemanusiaan/

Rabu, 10 Maret 2021

Atas Kiprah dalam Penanggulan Bencana, Muhammadiyah Terima Penghargaan dari BNPB

 


Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) kembali mendapatkan penghargaan dari BNPB atas kiprahnya dalam penanggulangan bencana di tanah air. Penghargaan kali ini terkait dengan intensitas, konsistensi dan inovasi dalam penanggulangan bencana oleh MDMC.

Penghargaan diberikan secara daring hari ini, Rabu, 10 Maret 2021 pukul 16.00 WIB. Budi Setiawan, Ketua MDMC PP Muhammadiyah menyampaikan kesyukurannya atas penghargaan tersebut. “Alhamdulillah, ini merupakan satu hal yang harus kami syukuri. MDMC yang sudah bekerja sekian lama, dengan penghargaan ini berarti kerja MDMC diakui oleh pemerintah dan satu bukti yang kami lakukan bermanfaat untuk masyarakat,” katanya.

Lebih lanjut Budi Setiawan menyampaikan kepada para relawan MDMC agar ini menjadi pemacu untuk meningkatkan kinerja. “Kepada segenap keluarga besar MDMC hal ini hendaknya menjadi satu pacuan untuk meningkatkan kinerja kita bersama, selalu memperbaiki agar yang kita lakukan betul-betul bermanfaat bagi masyarakat secara umum. Untuk pemerintah dalam hal ini BNPB kami ucapkan terima kasih atas penghargaan ini,” imbuhnya. 

MDMC selama ini menjadi lembaga yang memimpin dan mengkoordinasi kerja-kerja Muhammadiyah dalam penanggulangan bencana di Indonesia bahkan sampai manca negara. Dengan dukungan Lembaga Amal Zakat Infaq Shodaqoh Muhammadiyah (Lazismu) sebagai penopang pendanaan dari internal Muhammadiyah.

Kedua lembaga ini dengan perannya masing-masing menjadi penggerak seluruh unsur Muhammadiyah dari pimpinan, majelis lembaga terkait, organisasi otonom dan warga Muhammadiyah dalam respon kebencanaan dalam satu gerak yang dinamakan One Muhammadiyah One Response (OMOR).

Indrayanto, Koordinator Divisi Tanggap Darurat dan Rehabilitasi Rekonstruksi MDMC PP Muhammadiyah menyampaikan update perkembangan respon Muhammadiyah. “Dari awal Januari 2021 sampai pertengahan bulan Februari lalu respon Muhammadiyah untuk penanggulangan bencana sebanyak 40 kali tersebar di 14 propinsi, dengan jumlah terbanyak ada di Jawa Tengah sebanyak 16 respon,” katanya.

Menurutnya, respon bencana sebanyak itu meliputi berbagai macam bencana dengan mayoritas respon di awal tahun ini adalah respon bencana banjir dan tanah longsor. Selain itu, kata Indrayanto masih  ada bencana tanah bergerak, gempa, erupsi gunung berapi, kebakaran dan angin kencang.

Beberapa respon bencana masih dan sedang berjalan hingga saat ini di berbagai daerah. “Kami masih menjalankan respon gempa Sulawesi Barat, banjir Kalimantan Selatan, Dompu Nusa Tenggara Barat, dan Pekalongan serta tanah bergerak di Brebes dan Purbalingga. Tantangan respon yang menuntut inovasi saat ini adalah pandemi Cavid-19 yang tentunya membutuhkan SOP relawan untuk penerapan prokes dengan baik dalam melayani masyarakat”  imbuh Indrayanto.

Berbagai layanan dijalankan Muhammadiyah untuk membantu warga terdampak bencana di berbagai daerah “Kami melaksanakan layanan SAR, psikososial, kesehatan, sosialisasi, dapur umum, penyaluran logistik, makanan siap saji, air bersih, distribusi masker, pembuatan jembatan darurat,  hunian darurat dan tetap. Jumlah penerima manfaat sebayak 268.210 jiwa dengan total pengeluaran mencapai Rp. 2.988.377.861,” pungkasnya.



Sumber  : https://muhammadiyah.or.id/atas-kiprah-dalam-penanggulan-bencana-muhammadiyah-terima-penghargaan-dari-bnpb/

SIARAN PERS MDMC INDONESIA : Muhammadiyah Dapat Penghargaan Dari BNPB


Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) kembali mendapatkan penghargaan dari BNPB atas kiprahnya dalam penanggulangan bencana di tanah air. Penghargaan kali ini terkait dengan intensitas, konsistensi dan inovasi dalam penanggulangan bencana oleh MDMC.

Penghargaan diberikan secara daring pada hari ini, Rabu, 10 Maret 2021 pukul 16.00 WIB. Budi Setiawan, Ketua MDMC PP Muhammadiyah menyampaikan kesyukurannya atas penghargaan tersebut. "Alhamdulillah, ini merupakan satu hal yang harus kami syukuri. MDMC yang sudah bekerja sekian lama, dengan penghargaan ini berarti kerja MDMC diakui oleh pemerintah dan satu bukti yang kami lakukan bermanfaat untuk masyarakat,” katanya. 

Lebih lanjut Budi Setiawan menyampaikan kepada para relawan MDMC agar ini menjadi pemacu untuk meningkatkan kinerja. “Kepada segenap keluarga besar MDMC hal ini hendaknya menjadi satu pacuan untuk meningkatkan kinerja kita bersama, selalu memperbaiki agar yang kita lakukan betul-betul bermanfaat bagi masyarakat secara umum. Untuk pemerintah dalam hal ini BNPB kami ucapkan terima kasih atas penghargaan ini,” imbuhnya.  

MDMC selama ini menjadi lembaga yang memimpin dan mengkoordinasi kerja-kerja Muhammadiyah dalam penanggulangan bencana di Indonesia bahkan sampai manca negara. Dengan dukungan Lembaga Amal Zakat Infaq Shodaqoh Muhammadiyah (Lazismu) sebagai penopang pendanaan dari internal Muhammadiyah. 

Kedua lembaga ini dengan perannya masing-masing menjadi penggerak seluruh unsur Muhammadiyah dari pimpinan, majelis lembaga terkait, organisasi otonom dan warga Muhammadiyah dalam respon kebencanaan dalam satu gerak yang dinamakan One Muhammadiyah One Response (OMOR). 

Indrayanto, Koordinator Divisi Tanggap Darurat dan Rehabilitasi Rekonstruksi MDMC PP Muhammadiyah menyampaikan update perkembangan respon Muhammadiyah. “Dari awal Januari 2021 sampai pertengahan bulan Februari lalu respon Muhammadiyah untuk penanggulangan bencana sebanyak 40 kali tersebar di 14 propinsi, dengan jumlah terbanyak ada di Jawa Tengah sebanyak 16 respon,” katanya. 

Menurutnya, respon bencana sebanyak itu meliputi berbagai macam bencana dengan mayoritas respon di awal tahun ini adalah respon bencana banjir dan tanah longsor. Selain itu, kata Indrayanto masih  ada bencana tanah bergerak, gempa, erupsi gunung berapi, kebakaran dan angin kencang.

Beberapa respon bencana masih dan sedang berjalan hingga saat ini di berbagai daerah. “Kami masih menjalankan respon gempa Sulawesi Barat, banjir Kalimantan Selatan, Dompu Nusa Tenggara Barat, dan Pekalongan serta tanah bergerak di Brebes dan Purbalingga. Tantangan respon yang menuntut inovasi saat ini adalah pandemi Cavid-19 yang tentunya membutuhkan SOP relawan untuk penerapan prokes dengan baik dalam melayani masyarakat”  imbuh Indrayanto. 

Berbagai layanan dijalankan Muhammadiyah untuk membantu warga terdampak bencana di berbagai daerah “Kami melaksanakan layanan SAR, psikososial, kesehatan, sosialisasi, dapur umum, penyaluran logistik, makanan siap saji, air bersih, distribusi masker, pembuatan jembatan darurat,  hunian darurat dan tetap. Jumlah penerima manfaat sebayak 268.210 jiwa dengan total pengeluaran mencapai Rp. 2.988.377.861,” pungkasnya.

Yogyakarta, 8 Maret 2021

Arif Jamali

Wakil Ketua MDMC PP Muhammadiyah




Sumber : https://web.facebook.com/mdmc.id

SIARAN PERS MDMC INDONESIA : WHO Latih Manajemen Pasien Covid 19 Pada 400 Tenaga RS Muhammadiyah

 
Sudah satu tahun lebih sejak ditemukan kasus pertama Covid-19 dan Muhammadiyah membentuk gugus tugas Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC) serta menugaskan puluhan rumah sakit sebagai tempat perawatan para penderita Covid-19 di berbagai daerah di tanah air. Sampai saat ini Muhammadiyah tetap aktif membantu pemerintah dalam menangangi pandemi Covid-19.

Dalam menghadapi Covid-19, Muhammadiyah dibantu oleh banyak pihak selama memberikan layanan kesehatan di 84 Rumah Sakit Muhammadiyah dan Asyiyah (RSMA) yang ditunjuk. Salah satunya adalah dari organisasi kesehatan dunia (WHO) yang memberikan bantuan pelatihan bagi para tenaga kesehatan dan non kesehatan di 20 RSMA yang ditunjuk. 

Dua puluh RSMA itu adalah RS PKU Muhammadiyah Mayong Jepara, Kutowinangun Kebumen, Rogojampi Banyuwangi, Sekapuk Gresik, Nanggulan Kulonprogo, Fastabiq Sehat Pati. Kemudian RS Muhammadiyah Taman Puring Jakarta, Babat Lamongan, Ahmad Dahlan Kediri dan RS Muhammadiyah Palembang. 

Selanjutnya RS Islam Jakarta Sukapura, Siti Asyiyah Madiun, Aminah Blitar dan RSI Banjarmasin. RSU Muhammadiyah Bandung Tulungagung, Surya Melati Kediri, RS Asyiyah Ponorogo, RS Padang, RS Universitas Ahmad Dahlan, RS PKIA PKU Muhammadiyah Kotagede. 

Corona Rintawan selaku manajer program pelatihan dari Muhammadiyah mengatakan bahwa pelatihan tersebut diikuti oleh 400 orang peserta. “Pelatihan secara online sudah selesai dilaksanakan sejak bulan Desember 2020 dan diikuti oleh 200 tenaga kesehatan dan 200 tenaga non kesehatan dari 20 RSMA yang ditunjuk,” katanya. 

Pelatihan ini, kata Corona terdiri dari dua macam yaitu manajemen kasus Covid-19 kemudian manajemen pengendalian dan pencegahan infeksi di rumah sakit. Dengan pelatihan tersebut, pihaknya ingin meningkatkan kapasitas karyawan RSMA dalam hal penanganan dan manajemen kasus Covid-19. 

“Kami sudah selesai melaksanakan pelatihan yang ditargetkan sebanyak 5 kali dan angka kelulusan mencapai target lebih dari 80%. Saat ini kami menuju tahap supervisi yang dilaksanakan oleh koordinator di  masing-masing rumah sakit. Dalam satu bulan ke depan mengumpulkan hasil supervisi tersebut,” ujarnya. 

Secara teknis pelatihan dalam satu gelombang dibagi jadi dua sesi yaitu satu untuk tenaga kesehatan dan satu untuk tenaga non kesehatan. “Pelatihan ini kan bobotnya tentu beda untuk manajemen kasus bagi tenaga kesehatan memang lebih dalam, lebih rinci dan lebih teknis. Sedangkan untuk manajemen kasus untuk tenaga non kesehatan lebih singkat dan ringan,” pungkasnya.  (Tim Media MDMC).

Yogyakarta, 8 Maret 2021

Arif Jamali

Wakil Ketua MDMC PP Muhammadiyah



Sumber : https://web.facebook.com/mdmc.id

Momentum Sedekah


Madinah dan sekitarnya dilanda kekeringan yang lama. Paceklik. Penduduk banyak yang kelaparan karena persediaan makanan menipis, mulai habis. Peristiwa ini terjadi di zaman khalifah Abu Bakar Ash Shidiq. Ia pun meminta penduduk bersabar.

Datanglah pertolongan itu. Datanglah kafilah unta sebanyak seribu ekor. Membawa bahan makanan dan buah-buahan. Ini merupakan barang dagangan yang masuk dari luar kota, dari daerah pertanian yang tidak dilanda kekeringan. Begitu seribu ekor unta datang, berkerumunlah para pedagang hasil bumi. Mereka sudah membayangkan keuntungan melimpah. Di wajah, di mata, dan di kepala pedagang ini tidak terbayang bagaimana penduduk Madinah dan sekitar sangat menderita karena paceklik itu.

Jelas, mereka sama sekali tidak membayangkan akan kena batunya. Sebab yang memiliki bahan makanan dan buah-buahan segar yang dibawa oleh seribu ekor unta itu adalah Usman bin ’Affan. Sahabat Nabi. Generasi pertama penganut agama Islam dan sangat memahami ajaran Islam sebagaimana disampaikan oleh Rasulullah sendiri. Dia adalah orang yang sangat percaya diri bahwa rizki itu datangnya dari Allah subhanahu wa Ta’ala. Ia tidak pernah mengkhawatirkan masa depan rizkinya. Ia selalu siap memberikan hartanya untuk kepentingan kemanusiaan, untuk kepentingan umum, dan untuk kepentingan warga Madinah dan sekitarnya. Sesuai dengan momentumnya.

Inilah yang menyebabkaan ketika para pedagang itu mendatangi rumahnya untuk membeli barang dagangan berupa bahan makanan dan buah-buahan yang diangkut seribu ekor unta, ia menolak tawaran mereka. Ketika Usman menolak, mereka terus menaikkan tawarannya sampai berlipat-lipat lagi.

Agar masalah ini tidak bertele-tele, Usman berkata tegas kepada para pedagang itu,”Apakah kalian sanggup membayar barangbarang ini setinggi Allah memberi pahala kepadaku kalau aku menyedekahkan makanan dan buah-buahan ini kepada penduduk yang memerlukan?”

Para pedagang itu terdiam dan mereka satupersatu pergi dari rumah Usman bin ’Affan. Kemudian Usman melapor kepada Khalifah Abu Bakar bahwa dia memiliki persediaan makanan dan buah-buahan sebanyak yang diangkut seribu ekor unta. Usman menyerahkan barang itu kepada Abu Bakar. Ia menyedekahkan semuanya untuk kepentingan warga Madinah yang membutuhkannya. Dengan penuh rasa haru, Abu Bakar pun memeluk Usman. Lalu dia memerintahkan para sahabat yang lain membagi rata bahan makanan dan buah-buahan itu kepada seluruh penduduk Madinah dan sekitarnya. Tentu saja penduduk menerimanya dengan gembira, berterima kasih, dan mendoakan agar Usman bin ’Affan diberi kesehatan, keselamatan, dan rizki yang lebih melimpah lagi.

Pada zaman Rasulullah saw masih hidup, Usman pernah membeli sumur milik orang Yahudi yang masih mengalirkan air ketika sumur-sumur milik penduduk Madinah kering. Bagi Usman, ini momentum untuk sedekah. Sekarang, momentum bersedekah sering hadir lewat bencana ekonomi seperti banjir tenaga kerja impor dan kita membiarkan momentum itu lewat. Kinilah saatnya kita bersedekah lapangan kerja. (Mustofa W Hasyim)



Sumber : https://suaramuhammadiyah.id/2021/03/10/momentum-sedekah/

Senin, 08 Maret 2021

Diaudit Secara Detail Oleh BPK RI, Penggunaan Dana BPKH Oleh Lazismu Terbukti Amanah

  

Menguji transparansi penggunaan dana hibah, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Republik Indonesia dan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) mengunjungi Sekolah Dasar Unggulan ‘Aisyiyah (SDUA) Ngemplak, Sleman, dan Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta, Ahad (7/3).

Ditemani langsung Ketua Badan Pengurus Lazismu Pusat Hilman Latief, perwakilan BPK RI dan BPKH meninjau langsung dua sekolah yang dibangun melalui dana wakaf BPKH.

Audit BPK dilakukan untuk menjaga kepercayaan masyarakat, khususnya kerja sama BPKH dengan Lazismu Pusat. BPK juga mengonfirmasi jika dana yang disalurkan pada dua lembaga pendidikan Muhammadiyah itu telah dibelanjakan dan digunakan sesuai peruntukannya.

Sekretaris Tim Pengembangan Kampus Terpadu Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta Muhammad Ikhwan berterimakasih atas kepercayaan BPKH. Dirinya berharap, Lazismu terus menjalin kerjasama positif dengan BPKH.

Sementara itu PIC program kerja sama Lazismu dan BPKH untuk pembangunan SDUA Ngemplak Eny Muslichah Wijayanti  mengungkapkan bahwa audit tersebut berjalan lancar dan baik.

“Semua bukti pembangunan dan data administrasi telah lengkap. Tidak ada masalah apapun. Audit dari BPK detail sekali,” kata Eny Muslichah Wijayanti.

BPKH dan Lazismu sejatinya telah menjalin kerjasama dalam berbagai program, tetapi BPK dan BPKH mengaudit secara acak dengan memilih pembangunan SDUA Ngemplak dan Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta.



Sumber : https://muhammadiyah.or.id/diaudit-secara-detail-oleh-bpk-ri-penggunaan-dana-bpkh-oleh-lazismu-terbukti-amanah/

Berita Duka


 Innalillahi wa inna ilaihi roji'uun,

keluarga besar MDMC menyampaikan bela sungkawa yang dalam atas wafatnya Ketua MDMC dan MCCC Kota Blitar : Unang Endro Waluyo

Semoga diterima semua amal kebaikan dan amal ibadahnya, diampuni semua kesalahan dan kekhilafan.

dan semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan, Aamiin.

Minggu, 07 Maret 2021

Merebaknya Hoax, Narasi Kebencian, Penipuan, dan Cyberbullying adalah Tanda Rendahnya Literasi Digital Kita

Era digital mengharuskan masyarakat hidup dalam ruang nyata dan alam maya. Tetapi jauh menjadi sangat ironis ketika angka konsumsi gadget tinggi, durasi berinternet tinggi tetapi literasi digital masyarkat Indonesia sangat rendah.

Kondisi tersebut menjadi perhatian Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan (RPK ) Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPP IMM). Bahkan, menurutnya daya saing digital Indonesia berada di posisi terendah di Asia. Data ini dikutip dari laporan yang dirilis oleh We Are Social and Hootsuite pada Januari 2020.

“Hal ini menunjukkan masyarakat kita sedang mengalami krisis literasi digital. Merebaknya hoax, narasi kebencian, radikalisme, cyberbullying, penipuan menjadi pertanda krisis digital tengah meliputi masyarakat Indonesia,” kata Ahmad Sholeh, pada Kamis (4/3/2021).

Mengutip penelitian Microsoft yang menyebutkan netizen Indonesia paling tidak beradab se-Asia Tenggara turut menjadi perhatian Sekretaris Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan DPP IMM ini. Menurutnya, hal ini merupakan bukti kegagalan pengguna internet di Indonesia.

“Harusnya di media sosial apapapun menjadikan masyarakat kita tetap mengedepankan keadaban karena keadaban tersebutlah yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya,” kata Soleh.

Menyikapi kondisi tidak beradabnya netizen, Soleh menyarankan pentingnya literasi digital. Menurutnya literasi digital bukan hanya seperangkat keahlian dalam mengoperasikan alat-alat penunjang teknologi seperti komputer, laptop, gadget dan akses internet.

“Mengutip Jones dan Hafner, literasi digital berarti menggunakan alat-alat teknologi itu untuk melakukan sesuatu dalam konteks kehidupan sosial,” tuturnya.

Dalam kaitan dakwah Muhammadiyah dan IMM, Soleh mengatakan ada empat urgensi dakwah digital. Pertama urgensi informasi, dimana literasi digital merupakan hal dasar untuk bisa menangkap, mencerna, mengolah dan menyebarkan informasi.

Kedua, urgensi dakwah, menurutnya di era digital tantangan dakwah kian kompleks maka kader Muhammadiyah khususnya IMM perlu menggunakan media digital untuk menebarkan narasi Islam yang rahmatalil ‘alamin.

Ketiga, urgensi sosial. Menurutnya, kegiatan sosial campaign, aksi sosial, funraising merupakan kegiatan amal sosial yang bisa dilakukan kader Muhammadiyah lewat digital. Keempat adalah literasi digital dibutuhkan untuk memasigkan gerakan Muhammadiyah untuk kebaikan.

“Medium digital menjadi ruang membangun gerakan yang lebih masif dan struktur untuk kebaikan,” katanya.



Sabtu, 06 Maret 2021

Tinjau Persiapan KBM Tatap Muka STPI, Doni Monardo Ingatkan Konsistensi Protokol Kesehatan



 Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sekaligus Ketua Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19, Doni Monardo bersama Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi meninjau persiapan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) secara tatap muka yang rencananya akan dilakukan oleh Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI) di Curug, Kabupaten Tangerang, Banten, Sabtu (6/3).

Dalam arahannya, Doni Monardo berpesan agar pada implementasinya nanti protokol kesehatan dapat dilakukan secara konsisten dan tidak kendor.

Dia yakin apabila hal itu dapat dijaga dengan baik, maka akan dapat meminimalisir adanya penularan virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 di lingkungan kampus.

"Yang paling penting adalah konsistensi. Kalau konsep tadi bisa dilaksanakan secara optimal dan konsisten, saya yakin tidak akan ada yang terpapar," tegas Doni.

Kemudian, Doni Monardo juga berpesan agar status kesehatan, baik dari peserta didik maupun tenaga didik dapat diketahui dan dipastikan bahwa mereka dalam kondisi sehat serta tidak memiliki risiko tinggi.

Dalam hal ini, bagi para tenaga didik yang memiliki penyakit penyerta atau komorbiditas, maka Doni memberikan saran agar yang bersangkutan tidak melakukan tatap muka dengan para siswanya.

Sebab, mereka yang memiliki risiko tinggi tersebut dapat mudah tertular dan berakibat fatal apabila tertular COVID-19 dari para peserta didik berusia muda yang sudah terinfeksi sebelumnya namun masuk kategori Orang Tanpa Gejala (OTG).

"Penting sekali bagi para peserta didik termasuk juga para pengasuh khususnya untuk juga diketahui status kesehatannya," kata Doni.

"Saya sarankan apabila ada pengasuh yang memiliki risiko tinggi, punya komorbid sebaiknya tidak boleh melakukan pertemuan fisik dengan para siswa," imbuhnya.

Kegiatan belajar tatap muka STPI, menurut Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi rencananya akan dimulai pada pekan depan dengan porsi 30 persen masuk kelas dan 70 persen lagi menggunakan media daring (online).

Adapun kegiatan belajar tatap muka tersebut juga hanya dikhususkan bagi kelas praktik saja, yang mana hal itu mengharuskan kehadiran peserta didik.

Dalam implementasinya nanti, kegiatan belajar mengajar on campus tersebut akan menerapkan protokol kesehatan yang ketat, dimulai dari wajib masker, mencuci tangan dan periksa suhu badan sebelum masuk ruangan, wajib swab antigen sampai dengan konsep makan para peserta menggunakan sistem blok (block system), di mana para siswa taruna dan taruni tidak mengkonsumsi makanan dalam satu meja dan saling membelakangi.

Melihat praktik simulasi penerapan protokol kesehatan ketat dalam rencana KBM tatap muka tersebut, Doni Monardo merasa optimis. Akan tetapi dia tetap berpesan agar apa yang telah dilaksakanan dengan baik terkait pencegahan penularan COVID-19 tidak menjadi sia-sia.

"Kalau kita konsisten, disiplin dan juga bisa kompak bersama-sama maka inshaAlloh bangsa kita akan bisa mengendalikan COVID-19 ini dengan baik. Selamat mengikuti kegiatan belajar tatap muka, semoga Allah SWT melindungi kita semua," pungkas Doni.


Dr. Raditya Jati 

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB



Sumber : https://www.bnpb.go.id/berita/tinjau-persiapan-kbm-tatap-muka-stpi-doni-monardo-ingatkan-konsistensi-protokol-kesehatan-