Selasa, 02 Februari 2021

Pentingnya Edukasi Publik untuk Siaga Bencana 2021

 

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menekankan pentingnya implementasi pengurangan resiko bencana alam yang wajib menjadi perhatian seluruh masyarakat Indonesia selama Tahun 2021. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 136 bencana alam terjadi di Indonesia sepanjang 1-16 Januari 2021. Bencana banjir paling banyak terjadi, mencapai 95 kejadian. Bencana lainnya adalah tanah longsor yang terhitung sudah 25 kali terjadi, puting beliung telah terjadi sebanyak 12 kali, serta dua peristiwa gempa bumi. Peristiwa bencana tersebut telah mengakibatkan ratusan jiwa menjadi korban.

Awal Tahun 2021 melabuhkan kesedihan dan kekhawatiran bagi hati rakyat Indonesia terkait bencana alam yang banyak merenggut korban jiwa. Mulai dari tanah longsor di Sumedang hingga peristiwa gempa bumi berkekuatan M 6,2 di Kota Majene dan Mamuju mengingatkan kembali ancaman bencana serupa yang bisa terjadi kapan saja dan dimana saja. Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI Eko Yulianto memberikan istilah “Arisan”, karena bencana alam seperti gempa bumi, longsor, banjir, dan sebagaiya bisa terjadi di wilayah mana saja di Indonesia. “Seluruh wilayah Indonesia dipenuhi retakan – retakan akibat tektonik itu yang notabene menjadi sumber gempa,” terangnya..

Eko menegaskan bahwa perulangan gempa relatif lama misalnya 50 tahun atau bahkan lebih sehingga orang – orang mudah melupakannya. Itulah pentingnya edukasi terus – menerus mengenai mitigasi bencana diperlukan. Hal lain yang ia soroti adalah aspek bangunan yang aman atau tahan gempa. Kerapkali sebuah rumah dibangun hanya memperhatikan aspek estetikanya saja tanpa melibatkan faktor – faktor kebencanaan seperti ketahanan akan guncangan. Sementara membangun ulang rumah atau memperkuat bangunan yang sudah ada bisa membutuhkan biaya mahal, Eko juga mendorong masyarakat untuk memiliki satu ruang aman yang bisa digunakan sebagai tempat berlindung tatkala gempa terjadi.

Eko menambahkan, bagaimanapun bencana alam adalah takdir dan nafas dari bumi. Menurutnya, bencana bukan semata – mata aspek teknis tapi juga perilaku dan sikap manusia. “Acapkali aturan yang telah dibuat justru dilanggar seperti mendirikan bangunan di bibir pantai melewati batas sempadan,” ungkapnya. Eko juga menggarisbawahi krusialnya sinergi dan implementasi kebijakan yang sistemik, tidak hanya berlangsung secara sporadis.

Mengenai bencana hidrologi, Indonesia akan mengalami puncak musim hujan pada Januari dan Pebruari. “Masyarakat perlu menambah kewaspadaan terhadap bencana hidrometeorologi. Bencana banjir di Kalimantan Selatan telah mengakibatkan 27.111 Rumah Terendam dan 112.709 Warga Mengungsi di 7 kabupaten/Kota, sementara di Kabupaten Sumedang terjadi tanah longsor di Desa Cihanjunag Kecamatang Cimanggung,” papar Iwan Ridwansyah, Peneliti Pusat Penelitian Limnologi LIPI.  Ia menegaskan, bencana hidroklimatologi juga mengakibatkan banjir bandang dan cuaca buruk lainnya. “Untuk mengurangi dampak bencana dimasa depan, perencanaan tata ruang Kabupaten/kota yang berada pada potensi bencana tinggi harus di desain ulang berdasarkan analisis ilmiah berbasis kebencanaan,” urainya. (as/ ed: drs)



Sumber : 
Humas LIPI 
http://lipi.go.id/berita/pentingnya-edukasi-publik-untuk-siaga-bencana-2021/22320



0 komentar:

Posting Komentar