One Muhammadiyah One Response (OMOR)

Diskusi di Lokasi Bencana Desa Gembuk untuk mematangkan konsep OMOR di Pacitan'

Relawan Muhammadiyah Pacitan

TDRR Tanah Longsor Desa Gembuk Kec. Kebonagung

Dusun Jajar Desa Sempu Kec. Nawangan

Menanam adalah Sedekah

Pacitan : 29 Pebruari - 1 Maret 2020'

“Relawan Muhammadiyah/MDMC Meningkatkan Kapasitas”

Minggu, 28 Februari 2021

Dosen Australia: Unik, Manajemen Risiko Bencana Muhammadiyah

Unik, Manajemen Risiko Bencana Muhammadiyah. Dosen senior Humanitarian, Emergency And Disaster Management, Charles Darwin University, Australia— Jonatan Lassa—menyampaikan itu dalam diskuis online.

Dskusi bertema Membangun Pusdiklat MDMC: Catatan Ahli DRR digelar oleh Divisi Pendidikan dan Latihan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Pimpnan Pusat Muhammadiyah, Jumat (26/2/2021) malam.

Jonatan Lassa mengawali materi dengan mengajak peserta untuk melihat penanganan bencana dalam konteks makro di Indonesia.

“Setelah hampir 20 tahun aktif di bidang Community Based Disaster Risk Management (CBDRM)/Managemen Resiko Bencana Berbasis Komunitas, saya melihat CBDRM yang berkembang di Indonesia sangat plural,” ungkapnya.

Dan Muhammadiyah, khususnya melalui MDMC, harus melihat nilai tambah dan tanding dari CBDRM yang dikembangkannya.

Jonatan Lassa menyampaikan, dirinya melihat CBDRM yang dikembangkan Muhammadiyah sebagai salah satu yang mempunyai nilai tambah cukup besar.

“Itu perlu diketahui, baik oleh Muhammadiyah sendiri maupun pemerintah, misalnya. CBDRM Muhammadiyah itu unik dan bisa menjadi dasar mobilisasi ketika terjadi bencana,” paparnya.

Menurutnya, keunikan CBDRM Muhammadiyah ialah adanya hubungan riil antara unit Muhammadiyah. Misalnya rumah sakit atau sekolah dengan komunitas masyarakat. Dia menlai, hal ini bisa menjadi dasar mengembangkan model pendidikan dan latihan kebencanaan.

“Untuk mengisi celah model training misalnya yang dikembangkan oleh pemerintah, serta yang sesuai konteks Indonesia,” kata Jonatan Lassa.

Jonatan Lassa, Rahmawati Husein, Budi Setiawan, dan aktivis MDMC seluruh Indonesia. (MDMC for PWMU.CO)

Empat Model Penanganan Bencana

Dia menjelaskan, dalam dunia kebencanaan Indonesia, saat ini ada berbagai model sistem penanganan bencana yang berjalan. “Di Indonesia secara tidak kita sadari ada sistem penanganan bencana yang tumpang tindih, yang orang tidak lihat secara umum. Jadi ada sistem yang paralel,” ungkapnya.

Jonatan Lassa memaparkan, hasil dari reformasi penanganan kebencanaan yang tertuang dalam UU No. 24 tahun 2007, Indonesia sedang menuju model penanganan bencana yang bersifat induktif.

“Kita sedang mencoba mencari, meraba-raba sistem yang khas dengan sistem otonomi daerah sekarang dan sampai saat ini kita tidak punya model pas yang mampu efektif mengurangi bencana,” tegasnya.

Ada empat model penanganan bencana, menurut Jonatan Lassa, yang berjalan paralel tanpa disadari. Pertama, model command control ala militer. Kedua adalah civil protection atau pertahanan sipil.

Ketiga model internasional dengan sistem klaster yang dilokalisasi dalam bentuk klaster nasional. “Dan keempat model Incident Command System (ICS) misalnya model Amerika, Australia,” ungkapnya.

Sementara, lanjutnya, kita belum punya waktu yang cukup untuk mendefinisikan model yang paling pas untuk Indonesia. Oleh karena itu, di amenyerankan, agae Muhammadiyah, khususnya MDMC, perlu membantu menemukan model untuk Indonesia yang pas itu seperti apa.

“MDMC perlu mengalokasikan tenaga untuk memikirkan juga hal yang sifatnya strategis ini karena tidak sempat dipikirkan oleh banyak pihak,” sarannya.

Diskusi yang dimoderatori oleh Wakil Ketua MDMC PP Muhammadiyah Rahmawati Husein ini dihadiri oleh Ketua MDMC PP Muhammadiyah Budi Setiawan. Para relawan Muhammadiyah dari berbagai daerah di Indonesia juga mengikutinya.

Membuka diskusi, Budi Setiawan menyampaikan bahwa pada hakikatnya setiap kegiatan adalah sebagai wahana pelatihan. “Dan setiap pelatihan merupakan sarana peningkatan kapasitas,” katanya. (*)

Penulis Arif Jamali. Editor Mohammad Nurfatoni



Sumber : 

https://pwmu.co/180470/02/27/dosen-australia-unik-manajemen-risiko-bencana-muhammadiyah/

Muhammadiyah Garut Resmikan Tanggul Penahan Tebing Sungai

 

MDMC Kabupaten Garut meresmikan tanggul bronjong penahan tebing sungai Cibaluk di Desa Sagara, Kecamatan Cibalong, Sabtu (27/02/2021). Tanggul ini dibangun sebagai tahapan program rehabilitasi dan rekonstruksi oleh MDMC Kabupaten Garut dalam respon bencana banjir longsor yang terjadi pada tanggal 12 Oktober 2020 silam.

Acara peresmian yang dilaksanakan di dekat lokasi tanggul tersebut dihadiri oleh Camat Cibalong, Ketua PDM Kabupaten Garut beserta jajaran pimpinan lainnya, utusan MDMC PP Muhammadiyah, PCM Garut Kota dan Cibalong serta pengurus pondok pesantren Al Manaar.

Di Kecamatan Cibalong tepatnya Desa Sagara, banjir longsor tersebut mengakibatkan jembatan penghubung dengan Desa Mekarwangi yang melintasi Sungai Cibaluk terputus. Bantaran sungai juga mengalami abrasi dan mengancam pemukiman warga, komplek pondok pesantren Al Manaar yang berada didekatnya serta lahan pertanian warga.

Untuk menahan laju air sungai agar tidak semakin menggerus tebing disekitar sungai, MDMC Kabupaten Garut berinisiatif membangun tanggul bronjong terbuat dari batu kali di tepi sungai Cibaluk yang berdekatan dengan pemukiman warga dan komplek pondok pesantren Al Manaar.

Tanggul tersebut berukuran panjang 75 meter dengan tinggi 6 meter dan menelan biaya pembangunan sebesar Rp. 245.000.000,- bersumber dari donasi warga, lazismu PCM Garut Kota dan bantuan lazismu pusat dan MDMC PP Muhammadiyah. Tanggul dikerjakan selama 11 hari dari tanggal 2-12 Januari 2021.

Ketua MDMC Kabupaten Garut, Aceng Hobir dalam laporannya mengatakan dalam respon tanggap darurat banjir longsor di Kabupaten Garut, MDMC Kabupaten melaksanakan berbagai layanan untuk warga terdampak. “Kami mendistribusikan bantuan logistik untuk warga di berbagai tempat yang cukup parah terdampak banjir longsor,” katanya.

Dalam tahap rehabilitasi dan rekonstruksi, Aceng menambahkan pihaknya membangun beberapa sarana fisik terutama penahan tebing. “Di Cikelet kami membangun tembok penahan tanah di MI Cijambe, di Cisompet penahan tebing dudukan jembatan gantung di Kampung Depok Kolot, Desa Depok dan di Cibalong ini kami bangun tanggul yang akan kita resmikan saat ini,” ujarnya.

Sedangkan Camat Cibalong, Aris Riswandi dan Ketua PDM Kabupaten Garut, Yusuf Safari sama-sama mengapresiasi kerja-kerja MDMC Kabupaten Garut dalam tanggap darurat banjir longsor kali ini dan akan meneruskan kerja-kerja MDMC agar mendapat respon positif dari pemerintah Kabupaten Garut.

Sementara utusan MDMC PP Muhammadiyah yang hadir adalah Naibul Umam, dari divisi Tanggap Darurat dan Rehabilitasi Rekonstruksi mewakili Ketua MDMC PP Muhammadiyah Budi Setiawan yang berhalangan hadir.

Naibul Umam dalam sambutannya mengatakan bahwa kerja-kerja yang sudah dilakukan oleh MDMC Kabupaten Garut sangat luar biasa namun harus lebih banyak disyiarkan ke masyarakat. “Berita baik ini harus disampaikan karena akan memberikan pembelajaran. Seluruh informasi kegiatan ini harus disampaikan ke publik, harus disebarluaskan ke seluruh Indonesia,” katanya.

Meneruskan berbagai program dalam rangka rehabilitasi dan rekonstruksi banjir longsor, MDMC Garut masih akan membangun tanggul penahan abrasi juga di tebing sungai Cikangeang, Kecamatan Singajaya dan respon bencana tanah bergerak di MTs. Insanul Husna Desa Girimukti, Kecamatan Singajaya. (Tim Media MDMC).

Tanggul bronjong penahan tebing sungai di Desa Sagara, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Peresmian tanggul bronjong penahan arus sungai di Desa Sagara, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut, Jawa Barat



Sumber : https://www.facebook.com/be.r.mdmc




Sabtu, 27 Februari 2021

Program Pemulihan Di Sulawesi Barat

 

Penyerahan bantuan dari MDMC-Solidar Suisse untuk warga terdampak gempa di Majene dalam program ERWES.

Memasuki masa pemulihan setelah tanggap darurat berakhir di Sulawesi Barat tanggal 4 Februari 2021 silam, Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) bekerjasama dengan LAZISMU masih terus hadir mendampingi warga terdampak dengan menyiapkan berbagai program.

Indrayanto, Koordinator Divisi Tanggap Darurat MDMC PP Muhammadiyah mengatakan bahwa saat ini Muhammadiyah terus mematangkan rencana-rencana program lanjutan di Sulawesi Barat dengan dukungan Lazismu dan pihak eksternal.
“MDMC didukung oleh Lazismu akan meneruskan pendampingan terhadap penyintas gempa di Sulawesi Barat. Program-program yang kami siapkan yaitu pembangunan huntara, penerjunan KKN mahasiswa STIE Muhammadiyah Mamuju dan pendampingan oleh Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Barat. Termasuk, Kami juga jalankan program bersama NGO asal Swiss, Solidar Suisse” katanya.
Indrayanto menambahkan untuk jangka menengah dan panjang juga akan terus dimatangkan program pemulihan aset kesehatan milik PWM Sulawesi Barat. “Rehab dan optimalisasi fungsi Klinik Muhammadiyah Mamuju membutuhkan perhatian serius karena menjadi fasilitas yang sangat dibutuhkan untuk layanan kesehatan bagi warga,” ujarnya.
Terkait pelaksanaan program-program di masa pandemi Covid-19, Indrayanto menyampaikan pihaknya berkomitmen untuk terus menegakkan protokol kesehatan dengan ketat. “Kami akan membatasi jumlah relawan yang diturunkan di Sulawasi Barat dan tentu selalu menekankan pelaksanaan protokol kesehatan kepada mereka,” pungkasnya.

Kabupaten Majene menjadi daerah yang terdampak paling parah dari gempa yang terjadi pada tanggal 15 Januari 2021 silam di Sulawesi Barat. Oleh karena itu, MDMC memilihnya menjadi daerah dampingan dalam masa pemulihan bekerja sama Solidar Suisse dengan melaksanakan program Earthquake Response West Sulawesi (ERWES).
Dony Halim Mutiasa selaku koordinator program ERWES dari MDMC menyampaikan setelah menetapkan kriteria daerah dampingan, dari banyak kawasan terdampak gempa di Sulawesi Barat, MDMC bersama Solidar Suisse memilih 13 desa dari 2 kecamatan di Majene sebagai daerah layanan pendampingan.
“Desa-desa tersebut adalah Maliaya, Bambangan, Kayuangin, Lamungang Batu, Lombang, Lombang Timur, Lombong, Lombong Timur, Malunda, Mekatta, Salutahongan di Kecamatan Malunda dan Kabiraan serta Sulai di Kecamatan Ulumanda,” katanya.
Menurut Dony, di 13 desa tersebut, ERWES akan berjalan selama dua bulan. “Program ini bertujuan menyediakan Hunian Darurat (hundar) yang layak bagi penyintas dan pendampingan kepada masyarakat desa terkait pola hidup sehat sesuai protokol kesehatan dalam kondisi darurat bencana,” imbuhnya
Masih menurut Dony, program ERWES terdiri dari empat tahap yaitu verifikasi data, distribusi barang, pendampingan pembuatan Hundar dan monitoring. “Dalam program ini akan dibagi shelter kit, hygine kit, dan Covid-19 kit masing-masing sebanyak 1250 unit serta ditambah dengan air bersih (galon). Sedangkan untuk proses pembangunan shelter saat ini sudah mencapai progres 30% yaitu pemasangan kerangka dan terpal dalam proses distribusi,” ujarnya.
Ditanya tentang harapannya, Dony mengatakan dirinya berharap warga akan mendapat hunian darurat yang layak, “Juga hunian yang sesuai dengan protokol kesehatan serta pola hidup bersih dan sehat sehingga dapat mengurangi risiko lanjutan dari dampak bencana yang sudah terjadi,” pungkasnya. (Tim Media MDMC).
Penyerahan bantuan dari MDMC-Solidar Suisse untuk warga terdampak gempa di Majene dalam program ERWES.


Rabu, 24 Februari 2021

Alam Raya Amanah Kita

 

Bumi tidak akan kemana-mana. Bumi akan terus berevolusi. Namun jika manusia masih tetap ingin tinggal di bumi, maka mereka harus berubah. Penggalan narasi dalam film Semesta (2020) ini menjadi pengingat bagi kita untuk menjaga alam raya. Bumi sebagai satu-satunya planet yang ditempati makhluk hidup, sedang mengidap penyakit kronis, yang menyebabkan daya sangga bumi terhadap kehidupan mengalami gangguan dan penurunan. Bahkan, kelangsungan kehidupan di muka bumi dan alam raya ikut terancam.

Kita berada dalam krisis yang multidimensi. Terjadi banyak bencana, krisis pangan, kelangkaan air bersih, pencemaran air dan udara, deforestasi dan degradasi lahan, meningkatnya efek gas rumah kaca, pemanasan global, perubahan iklim, kehilangan keanekarangaman hayati, dan seterusnya. Di saat bersamaan, terjadi lonjakan jumlah penduduk yang eksponensial. Pada 2050 diperkirakan 10 milyar jiwa akan mendiami planet ini. Saat ini, lebih dari 7,7 milyar manusia masih bisa hidup saling berbagi. Namun, satu bumi dan seisinya tidak akan cukup memenuhi kebutuhan satu manusia serakah.

Harus segera disadari bahwa bumi tidak sedang baik-baik saja dan menuntut sikap kita semua untuk lebih peduli. Perlu ada perubahan paradigma dalam memandang alam raya. Menurut Ketua Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah Muhjidin Mawardi, pandangan antroposentris yang mendewakan manusia, ikut melahirkan laku eksploitatif. Tak sadar, manusia telah mengkhianati amanah untuk menjadi khalifah Allah. Padahal dengan akal dan pemikirannya yang melahirkan ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia diberi peran mengupayakan penyebaran rahmat bagi alam raya.

Merusak alam merupakan pengingkaran tugas sebagai wakil Tuhan. Allah menegaskan dalam banyak ayat supaya manusia tidak membuat kerusakan, semisal Qs Al-Baqarah: 11, 12, dan 60; Al-A’raf: 56, 74, 85; Al-Anfal: 73; Hud: 85, 16; Al-Syu’ara: 152; Al-Qasas: 77, 83; Al-Ankabut: 56. Muhammad Abduh menyatakan bahwa manusia dan alam harus berkolaborasi menciptakan spiritual harmony. Manusia dan alam harus membangun relasi intersubjektif. Apa yang diterima manusia dari alam, sesuai dengan apa yang telah diberi pada alam. Baik dan buruknya yang diterima tidak akan menyalahi apa yang telah dilakukan.

Paradigma serupa dari Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah tertuang dalam buku Teologi Lingkungan: Etika Pengelolaan Lingkungan dalam Perspektif Islam (2011) dan Menyelamatkan Bumi melalui Perbaikan Akhlaq dan Pendidikan Lingkungan (2016). Dinyatakan bahwa alam atau lingkungan merupakan kesatuan yang komponennya terdiri dari: sang pencipta, alam, dan makhluk hidup. Kesadaran holistik ini melahirkan pola hubungan saling mengisi dan membutuhkan antara manusia dan lingkungan. Pertama, hubungan keimanan dan peribadatan. Alam merupakan ayat-ayat atau tanda-tanda yang menjadi sarana mengenal kebesaraan dan kekuasaan Allah. Manusia harus menyadari bahwa alam semesta diciptakan untuk tujuan yang tidak main-main (Qs Ad Dukhan: 38-39).

Kedua, hubungan pemanfaatan yang berkelanjutan. Alam boleh dipergunakan untuk kelangsungan hidup, namun tidak boleh boros. Manusia harus memperhatikan keberlanjutan alam bagi generasi setelahnya (Qs Al-An’am: 141-142). Ketiga, hubungan pemeliharaan untuk semua makhluk. Manusia wajib menjaga alam untuk mempertahankan kelangsungan hidup di muka bumi, karena manusia punya kemampuan konservasi alam. Sebagai wakil Tuhan, manusia diperintahkan memelihara, memanfaatkan, dan bertanggung jawab terhadap kelangsungan alam.

Teks agama telah memberi rambu tentang paradigma memandang alam. Tokoh Nahdlatul Wathan, TGB Muhammad Zainul Majdi menyebut bahwa penafsiran Qs Al-Baqarah: 29, huwa alladzi khalaqa lakum ma fil ardhi jami’an, sering menjadi dalih keangkuhan manusia. “Kita sering menafsirkannya: Dialah yang menciptakan bumi untuk kemanfaatan kalian manusia. Karena dimaknakan sebagai untuk kemanfaatan, maka kita selalu bicara sisi eksploitatif. Semua ini buat kita pakai. Sering tidak sadar dari sisi eksploitatif itu akhirnya keluar rumusan bahwa bumi Allah itu di bawah (kuasa) manusia.”

Mantan Gubernur NTB ini mengajukan tafsiran lain, bahwa huruf lam pada ayat tersebut berfungsi lil i’tibar. Sehingga maknanya menjadi, Dialah yang menjadikan bumi untuk kalian mengambil pelajaran. Konsekuensinya menjadi jauh berbeda. “Bumi Allah yang demikian indah adalah wadah yang terbaik untuk sampai kepada pengetahuan tentang sang pencipta. Karena itu, bumi harus dijaga keindahannya, dijaga kesempurnaannya, dijaga segala macam resources-nya supaya bisa terus-menerus ada di setiap generasi,” tuturnya. Pada akhirnya, kesadaran ini akan mengantarkan manusia pada sang pencipta semesta yang Maha Sempurna.

Paradigma tentang alam ini, kata TGB Zainul Majdi, masuk dalam wilayah akidah, syariah, akhlak. Wilayah akidah karena manusia diberi amanah menjadi khalifah untuk menjaga alam. Ayat-ayat Allah yang terbentang di alam raya mengantarkan pada keimanan. Bidang syariah karena manusia diperintahkan waf’alul khair, yaitu setiap amal yang kemanfaatannya itu mencakup seluruh eksistensi yang ada di sekitar kita, termasuk lingkungan. Dari sisi akhlak, jelas sekali manusia harus menjaga akhlak dengan Allah, sesama manusia, dan dengan makhluk Tuhan lainnya, yaitu alam semesta.

Muhjidin Mawardi mengingatkan bahwa semua kita bisa memulai dari hal kecil, semisal kepedulian pada masalah sampah. “Indonesia menjadi negara buangan sampah atau keranjang sampah internasional.” Selain isu sampah, MLH PP Muhammadiyah gencar mengedukasi masyarakat tentang pentingnya green building, bangunan ramah lingkungan dalam hal pemakaian air tanah dan energi listrik. Tata ruang bangunan di negara sub tropis seperti Indonesia harus memperhatikan kebutuhan ruang keluar masuk udara, cahaya, serta sanitasinya, sehingga mampu mengurangi penggunaan AC dan listrik.

Ketua Prodi Geografi UNY Dyah Respati Suryo Sumunar menyebut bahwa di Yogyakarta, TPST Piyungan menerima 650 ton sampah pasar dan sampah rumah tangga setiap hari. “Radius 2-3 km dari sini pasti akan terdampak, mulai dari baunya, atau mungkin sekarang air sumurnya sudah tercemar atau air tanahnya sudah tercemar.” Diperlukan solusi bersama dari mulai tingkatan RT. Dyah mencontohkan kebijakan mantan Walikota Yogyakarta Herry Zudianto tentang keharusan pemilahan sampah di rumah tangga dan RT. Minimal ada pemilihan sampah untuk memudahkan proses reduce, reuse, recycle. Bahkan, olahan sampah dengan bantuan alat incinerator, bisa menghasilkan listrik tenaga sampah.

Paradigma itu harus dimulai dari lingkup keluarga melalui proses pendidikan, ungkap guru besar Kimia UNY Nurfina Aznam. Perilaku anggota masyarakat harus ditunjang oleh sistem yang mendukung upaya pelestarian lingkungan. Sistem menjadi penting dalam membentuk perilaku, karena misalnya tentang anak-anak yang diajarkan tidak membuang sampah sembarangan di sekolah, sering tidak mendapat teladan di masyarakat. Sistem harus menjamin penegakan hukum. Semisal tentang peraturan limbah pabrik, sistem hukum harus tegas kepada pelaku industri. (ribas, bahan: ayu/erik/rbs/hnf/fah)

Sumber: Majalah SM Edisi 5 Tahun 2020

Minggu, 07 Februari 2021

Masnah Jafar, ”Koki” Andal di Tenda Pengungsian


Masnah Jafar (51) menjelma menjadi juru masak utama di dapur tenda pengungsian saat terjadi bencana alam. Dari musibah di Balikpapan, gempa dan tsunami Palu, hingga gempa Mamuju, masakannya tersedia untuk menjamu ribuan pengungsi.

Berbekal sebilah pisau dan celemek yang menutupi dasternya, Masnah memotong tipis daging kambing di atas tempayan. Urat daging dicek dulu sebelum diiris. Tenda biru menjadi atap sekaligus penghalang dengan panas matahari pagi yang mulai terik di Posko Muhammadiyah yang berada di Rimuku, Mamuju, Sulawesi Barat, Sabtu (30/1/2021).

Di sebelahnya, tujuh ibu-ibu melakukan hal serupa. Tiga kambing baru saja dipotong tim sukarelawan di Posko Muhammadiyah untuk penyintas gempa Sulawesi Barat. Posko ini merupakan kerja sama Muhammadiyah Disaster Management Center, Lazismu, dan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH).

Setelah tuntas, ibu satu anak ini beranjak ke jejeran kompor yang berjarak beberapa langkah di sebelah kanan. Kuali seukuran meja bundar oshin diletakkan di atas kompor. Air bersih dimasukkan ke kuali. Setelah panas, daging kambing yang telah dipotong kecil dimasak. Sesudah mendidih, air masakan daging dibuang.

”Biar dagingnya tidak keras dan baunya tidak nempel. Sama kayak tetelan dan yang ada lemaknya itu juga sudah kita masak lebih dulu dan buang airnya. Biar tidak banyak lemak. Kami juga tidak kasih pedas karena yang makan bukan cuma orang dewasa, tetapi anak-anak juga. Kasihan, kan, kalau kepedasan, terus kolesterol tinggi,” ujar Masnah sembari menyiapkan wajan dan perlengkapan tempur dapur lainnya.

Lalu, bumbu diaduk dan gulai kambing mulai diolah. Satu jam setelahnya, pukul 12.00 lebih beberapa menit, gulai kambing disajikan untuk sukarelawan dan dibagikan kepada pengungsi yang telah mengantre. Pengungsi ini dari sejumlah daerah di Mamuju.

Harum gulai menguar dan memanggil untuk dinikmati. Rasa gulai daging kambing ini menempel di lidah. Bumbu gulai menempel di potongan daging kambing yang serasa daging sapi. Entah karena lapar, atau memang rasanya yang dahsyat. ”Masak untuk pengungsi itu harus kita samain masak untuk sendiri. Jangan karena untuk pengungsi, dikurang-kurangin. Malah mereka ini harus makan enak karena sudah tertimpa bencana,” ujarnya.

Masnah Jafar (51) menyiapkan bumbu masakan di posko Muhammadiyah di Mamuju, Sulawesi Barat, Sabtu (30/1/2021).

Dibantu rekan-rekannya, ia adalah juru masak utama di posko yang bisa melayani hingga 6.000 orang dalam sehari. Tugas utamanya ialah mulai dari meracik bumbu, mengolah masakan, hingga mengusulkan menu.

Masnah seperti tak mengenal lelah, pekerjaannya belum berhenti selepas memasak. Ia bergabung dengan sukarelawan lainnya membungkus gulai. Padahal, di tangan kanannya, dua perban kecil masih menempel. Perban itu menutupi bekas jarum untuk transfusi darah dan infus. Di lengan kirinya ada bekas transfusi.

Pada Kamis (28/1/2021) pagi, cerita Masnah, ia merasa sedikit pusing. Tim kesehatan sukarelawan Muhammadiyah memeriksa Masnah. Hasilnya, tekanan darah normal, tetapi hemoglobin (Hb) dalam darah rendah.

Ia lalu dirujuk ke RS Bhayangkara Mamuju untuk mendapatkan perawatan. Di sana ia diinfus sebanyak lima kantong dan ditransfusi dua kantong darah. Karena kondisinya yang lemah, ia dirawat semalam di rumah sakit.

Beberapa jam beristirahat, ia bangun pukul 02.00. Setelah shalat, ia mulai menuju dapur umum untuk memasak hingga jelang pagi hari. Mandi pagi dilakukan setelah menunaikan shalat Subuh.


Masnah Jafar (51) di posko Muhammadiyah di Mamuju, Sulawesi Barat, Sabtu (30/1/2021).

”Lumayan sehat sudah dirawat. Yang penting bisa masak lagi karena sarapan itu harus kelar sebelum jam 06.00. Biar sukarelawan dan pengungsi langsung makan setelah bangun,” ucap perempuan yang berasal dari Balikpapan ini. Sarapan yang dibuat bisa mencapai 1.000 hingga 2.000 porsi setiap hari.

Setelah sarapan, tugas Masnah tidak kunjung usai. Pekerjaan di dapur umum masih menunggu. Menu makan siang harus disiapkan. Ia pun kembali dengan aktivitas memasak, seperti memotong sayur dan mengolah bumbu.

Setelah selesai, baru ia menuju kamar yang disiapkan untuk ibadah beberapa menit. Sebab, bahan untuk makan malam juga harus disiapkan. Begitulah rutinitas yang dilakoninya selama lebih dari sepekan di Mamuju.


Kebutuhan pokok, pakaian, dan logistik lainnya diturunkan dari KRI Banda Aceh di Mamuju, Sulawesi Barat, Minggu (31/1/2021). Sebanyak 150 ton bantuan dari sejumlah pihak dibawa menggunakan KRI Banda Aceh yang bertolak dari Kalimantan Selatan.

Menu sarapan, makan siang, juga malam, berbeda setiap hari. ”Biar pengungsi tidak bosan makannya. Masak tiap hari telur. Yang penting itu lauknya gantian, kalau hari ini ayam, besok daging,” katanya.

Daerah bencana

Setelah gempa berkekuatan M 6,2 mengguncang Majene hingga Mamuju, Jumat (15/1), Masnah yang juga Bendahara Divisi Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana Pengurus Daerah Aisyiah Balikpapan mulai bergerak. Bersama rekan-rekannya, mereka menggalang dana dan donasi. Ia juga berkoordinasi dengan pengurus lain di beberapa wilayah.

Setelah dana terkumpul dan ia dipastikan berangkat ke Mamuju, Masnah membeli sejumlah bumbu masakan. Ia khawatir dengan kondisi gempa, berupa-rupa bumbu akan sulit didapatkan. Rabu (20/1), ia tiba di Mamuju bersama lima ibu-ibu lainnya. Mereka adalah tim tempur di dapur umum. Menurut rencana, mereka tinggal selama dua pekan di Mamuju untuk mengurus makanan pengungsi.


Aktivitas sukarelawan di dapur umum untuk makan gratis di posko Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) di Mamuju, Sulawesi Barat, Minggu (17/1/2021). Sejumlah sukarelawan berinisiatif membangun dapur umum untuk makan warga selama tanggap darurat.

Setelah izin kepada anak semata wayangnya yang saat ini telah remaja, ia berangkat. ”Anak saya tinggal sama sepupunya. Suami saya sudah meninggal sembilan bulan lalu. Kena diabetes, sakit, dan meninggal,” tuturnya ringan.

Tidak hanya kali ini Masnah dan rekan-rekannya memasak saat bencana. Pada gempa Palu tahun 2018, sekitar satu pekan setelah gempa dahsyat tersebut, ia dan ibu-ibu lainnya telah tiba di posko pengungsian Muhammadiyah.

”Kami tiga Minggu di sana masak. Masih lihat, tuh, korban di pinggir jalan. Prihatin sekali liatnya,” tuturnya.

Meski demikian, ia mengaku tidak takut melihat jenazah. ”Saya kerjaannya juga mandiin jenazah dari tahun 90-an. Kalau takut tidak, hanya sedih lihatnya dalam satu waktu banyak yang meninggal.”

Masak untuk pengungsi itu harus kita samain masak untuk sendiri. Jangan karena untuk pengungsi, dikurang-kurangin. Malah mereka ini harus makan enak karena sudah tertimpa bencana.

Sejak beberapa tahun lalu, ia menceritakan, terlibat dalam dapur umum telah ia lakukan. Salah satunya, saat kebakaran di permukiman di Balikpapan yang membuat ratusan warga mengungsi. Bersama rekan-rekannya, ia juga turut membuka posko dapur umum.

Saat pandemi, mereka berinisiatif berbagi makanan setiap Jumat. Beramai-ramai mereka menumpang mobil, mencari warga yang kesulitan untuk makan. Kegiatan rutin dilakukan sejak pertengahan tahun lalu.

Setiap ada musibah atau bencana, hati Masnah langsung tergerak. Dengan menggunakan dana pribadi atau dana organisasi, ia berupaya memberi bantuan. Memasak adalah keahliannya, maka ia membuat makanan untuk pengungsi atau mereka yang tertimpa musibah.


Masnah Jafar (51) mengaduk gulai kambing di posko Muhammadiyah di Mamuju, Sulawesi Barat, Sabtu (30/1/2021).

Memasak untuk orang yang tertimpa musibah membuat Masnah merasa bahagia. Ia sudah sangat senang ketika melihat orang memakan masakannya dengan lahap.

Kemampuan memasak Masnah, ia menceritakan, turun dari ibunya yang memang dikenal tukang masak kampung. Mengikuti jejak sang ibu, ia kini menjadi tukang masak untuk pesta, seperti pernikahan atau khitanan. Ia menerima panggilan ke rumah orang atau membuatkan masakan di rumah, lalu mengantarnya.

Ia mulai belajar memasak sejak remaja. Selain ibunya, ia belajar dari seorang tetangganya yang bernama Endang yang berprofesi sebagai chef. Dari situ, kemampuan mengolah berbagai jenis masakan semakin bertambah.

”Waktu nikahan itu saya masak sendiri. Masa lagi di-make up, ditanyain sama orang dapur, apa lagi bumbunya, tambah garam tidak?” ucapnya sembari tertawa.

Memasak bagi Masnah memang sebuah panggilan hidup. Namun, ada hal yang bisa membuatnya melempar celemek dan meninggalkan dapur, yaitu ketika ada panggilan untuk memandikan jenazah.

Menurut Masnah, memasak masih bisa dikerjakan oleh orang lain. Sementara memandikan jenazah itu hanya sedikit orang yang tahu. ”Pernah juga pas masak acara kawinan ada panggilan orang meninggal. Ya saya tinggalin. Rezeki, umur, jodoh itu rahasia Allah. Kita berbuat saja sebaiknya,” ucapnya.

Ia akan terus turun membantu saat ada musibah di sekitarnya. Namun, ia juga berharap tidak terjadi bencana lagi yang menghilangkan nyawa banyak orang.

Masnah Jafar

Lahir: Balikpapan, 30 Juni 1969

Suami: Faizal Fanani (almarhum)

Anak: 1

Pekerjaan: Juru masak acara pernikahan dan memandikan jenazah

Organisasi:

- Wakil Ketua Aisyiah Cabang Balikpapan Barat, Balikpapan, Kalimantan Timur

- Bendahara Divisi Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana Pimpinan Daerah Aisyiah Balikpapan, Kalimantan Timur.



Sumber : https://bebas.kompas.id/baca/bebas-akses/2021/02/03/masnah-jafar-chef-kawakan-hidangan-bencana/

Selasa, 02 Februari 2021

Pentingnya Edukasi Publik untuk Siaga Bencana 2021

 

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menekankan pentingnya implementasi pengurangan resiko bencana alam yang wajib menjadi perhatian seluruh masyarakat Indonesia selama Tahun 2021. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 136 bencana alam terjadi di Indonesia sepanjang 1-16 Januari 2021. Bencana banjir paling banyak terjadi, mencapai 95 kejadian. Bencana lainnya adalah tanah longsor yang terhitung sudah 25 kali terjadi, puting beliung telah terjadi sebanyak 12 kali, serta dua peristiwa gempa bumi. Peristiwa bencana tersebut telah mengakibatkan ratusan jiwa menjadi korban.

Awal Tahun 2021 melabuhkan kesedihan dan kekhawatiran bagi hati rakyat Indonesia terkait bencana alam yang banyak merenggut korban jiwa. Mulai dari tanah longsor di Sumedang hingga peristiwa gempa bumi berkekuatan M 6,2 di Kota Majene dan Mamuju mengingatkan kembali ancaman bencana serupa yang bisa terjadi kapan saja dan dimana saja. Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI Eko Yulianto memberikan istilah “Arisan”, karena bencana alam seperti gempa bumi, longsor, banjir, dan sebagaiya bisa terjadi di wilayah mana saja di Indonesia. “Seluruh wilayah Indonesia dipenuhi retakan – retakan akibat tektonik itu yang notabene menjadi sumber gempa,” terangnya..

Eko menegaskan bahwa perulangan gempa relatif lama misalnya 50 tahun atau bahkan lebih sehingga orang – orang mudah melupakannya. Itulah pentingnya edukasi terus – menerus mengenai mitigasi bencana diperlukan. Hal lain yang ia soroti adalah aspek bangunan yang aman atau tahan gempa. Kerapkali sebuah rumah dibangun hanya memperhatikan aspek estetikanya saja tanpa melibatkan faktor – faktor kebencanaan seperti ketahanan akan guncangan. Sementara membangun ulang rumah atau memperkuat bangunan yang sudah ada bisa membutuhkan biaya mahal, Eko juga mendorong masyarakat untuk memiliki satu ruang aman yang bisa digunakan sebagai tempat berlindung tatkala gempa terjadi.

Eko menambahkan, bagaimanapun bencana alam adalah takdir dan nafas dari bumi. Menurutnya, bencana bukan semata – mata aspek teknis tapi juga perilaku dan sikap manusia. “Acapkali aturan yang telah dibuat justru dilanggar seperti mendirikan bangunan di bibir pantai melewati batas sempadan,” ungkapnya. Eko juga menggarisbawahi krusialnya sinergi dan implementasi kebijakan yang sistemik, tidak hanya berlangsung secara sporadis.

Mengenai bencana hidrologi, Indonesia akan mengalami puncak musim hujan pada Januari dan Pebruari. “Masyarakat perlu menambah kewaspadaan terhadap bencana hidrometeorologi. Bencana banjir di Kalimantan Selatan telah mengakibatkan 27.111 Rumah Terendam dan 112.709 Warga Mengungsi di 7 kabupaten/Kota, sementara di Kabupaten Sumedang terjadi tanah longsor di Desa Cihanjunag Kecamatang Cimanggung,” papar Iwan Ridwansyah, Peneliti Pusat Penelitian Limnologi LIPI.  Ia menegaskan, bencana hidroklimatologi juga mengakibatkan banjir bandang dan cuaca buruk lainnya. “Untuk mengurangi dampak bencana dimasa depan, perencanaan tata ruang Kabupaten/kota yang berada pada potensi bencana tinggi harus di desain ulang berdasarkan analisis ilmiah berbasis kebencanaan,” urainya. (as/ ed: drs)



Senin, 01 Februari 2021

Hadapi Bencana Multihazard, MDMC Sampaikan Rekomendasi kepada Pemerintah

 


Memasuki akhir tahun 2020 dan awal tahun 2021, Indonesia menghadapi bencana bertubi-tubi di berbagai daerah. Sebagian besar merupakan bencana hidrometeorologi, berhubungan dengan perubahan iklim seperti banjir, longsor, gelombang pasang dan angin ribut. Lalu erupsi gunung berapi dan gempa bumi dalam jumlah lebih sedikit namun menimbulkan kerugian besar.
Semua bencana itu terjadi pada saat seluruh umat manusia menghadapi bencana global, pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung satu tahun lebih. Di Indonesia, pandemi Covid-19 hingga kini sudah mencapai angka satu juta kasus lebih dengan kematian mencapai 29.728 orang meninggal (update per tanggal 31 Januari 2021).
Bencana bertubi-tubi ditengah pandemi Covid-19 tersebut membuat Indonesia harus menghadapi bencana yang bersifat multihazard, multi ancaman. Dalam kondisi normal, tanggap darurat bisa fokus ke penanganan bencana itu sendiri, namun dalam masa pandemi Covid-19 sekarang mau tidak mau penanganan bencana juga harus melaksanakan protokol kesehatan pencegahan Covid-19.
Budi Setiawan, selaku Ketua Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) PP Muhammadiyah dalam Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) yang dilaksanakan tanggal 9 Januari 2021 menyampaikan beberapa poin rekomendasi kepada pemerintah baik pusat maupun daerah dalam menghadapi bencana multihazard ini. Berikut poin-poin rekomendasi MDMC :
Baca Juga:   UMY Fasilitasi Promosi Digital Kerajinan Banjarharjo 1
1.Memprioritaskan kebijakan dan anggaran penerapan prinsip pengurangan risiko bencana berbasis komunitas pada masa pandemi sebagai upaya memastikan ketangguhan kelompok masyarakat terkecil untuk menghadapi segala ancaman bencana, karena mobilitasi antar daerah bagi relawan dan bantuan bencana harus ditekan dimasa pandemi ini.
2.Memperkuat sistem tanggap darurat bencana multihazard pada masa pandemi di komunitas dengan dukungan sistem komunikasi, logistik dan supervisi yang kuat dengan tetap sesuai protokol kesehatan Covid-19
3.Memperkuat kerjasama antara pemerintah/pemerintah daerah dengan kekuatan organisasi kemaysarakatan dan lembaga swadaya masyarakat dalam upaya penanganan bencana alam maupun pandemi Covid-19 agar lebih efektif dan berbasis kekuatan riil masyarakat di tingkat lokal.
4.Agar setiap perumusan kebijakan dan strategi penanganan pandemi pemerintah dan pemerintah daerah selalu mendasarkan ada data (evidence) serta berpijak pada pendapat para ahli di bidangnya (scientific-based approach) dengan mengedepankan keselamatan rakyat di atas kepentingan lainnya.
5.Agar setiap kebijakan yang disusun dalam merespon bencana alam maupun pandemi Covid 19 sensitif terhadap perempuan dan kelompok rentan.
6.Memprioritaskan upaya perlindungan keselamatan relawan dan warga terdampak pada kegiatan tanggap darurat dan pemulihan bencana alam di masa pandemi dengan adanya asuransi, penyediaan Alat Pelindung Diri (APD), perangkat tracing dan testing, termasuk infrastuktur isolasi bila ada relawan atau warga terdampak bencana alam terkonfirmasi Covid-19. (MDMC/Riz)


Rekomendasi MDMC Penguatan Sistem Penanggulangan Bencana Multihazard Dalam Masa Pandemik Covid-19, klik di sini.