Senin, 06 April 2020

Warga Desa Jetis Lor Sadar Diri Karantina Mandiri

 Kunjungan dan pemantauan Kepala Desa Jetis Lor bersama Ketua RT, Kepala Dusun, Babinsa dan Babin Kamtibmas ke rumah Sdr. Wahyudi


Wabah Virus Corona atau Covid-19 semakin merajalela di mana-mana termasuk di Ibukota Indonesia, DKI Jakarta. Karena karakter penyebaran Covid-19 yang begitu cepat sebagian masyarakat yang bekerja harian memilih untuk melakukan pulang kampung, biarpun ada himbauan agar warga tidak pulang kampung. Terdapat alasan yang logis dan masuk akal dari pemudik ini, pertama jika tetap bertahan di Jakarta dengan tidak melakukan kerja tentu beban ongkos hidup sehari-hari akan menjadi-jadi padahal sudah tidak bekerja lagi. Alasan kedua, pulang kampung adalah, di kampung merasa aman dan bebas Covid-19 karena di desa dan dekat dengan keluarga. 

Tak terkecuali dua warga Desa Jetis Lor Kecamatan Nawangan Kab. Pacitan, yakni Wahyudi (30), warga RT 01 RW 03 Dusun Dawuhan dan Suratman (46), warga Dusun Tamansari. Ketika tiba di desa kondisi bugar dan sehat biarpun telah menempuh perjalanan jauh dan melelahkan yang duanya mengadu nasib di Jakarta.

Dengan pendekatan persuasif dari warga dan Pemerintah Desa Jetis Lor, Wahyudi dan Suratman bersedia untuk melakukan karantina mandiri selama 14 hari sejak kedatangannya di desa. Dalam keterangannya Kepala Desa Jetis Lor Sarmin (Senin, 06/04/2020) mengatakan, "Pemerintah Desa menghimbau warga yang dari luar kota masuk darlam ODP - Orang Dalam Pantauan - atau ODR - Orang Dalam Risiko - diharapkan lapor ke Pemerintah Desa, kemudian diberikan arahan untuk tidak keluar rumah selama 14 hari. Hal ini kami lakukan karena Wahyudi dan Suratman ini sebelumnya berada di Jakarta." 

Warga Desa Jetis Lor yang melakukan karantina mandiri berada di rumahnya masing. Sementara keluarga yang sebelumnya menempati rumah itu "boyongan" ke rumah keluarga yang lain. Mengenai kebutuhan makan-minum kedua orang yang isolasi mandiri ini dipenuhi oleh keluarga masing-masing. Namun Sarmin Kades Jetis Lor menjamin, jika keluarga kesulitan dalam mencukupi kebutuhan pemerintah desa akan mencukupi termasuk masalah kesehatannya. Kepala Desa Sarmin yang berlatar belakang pendidikan perawat ini dan aktivis MDMC ini bercerita bahwa tengah malam pada masa karantina Pak Suratman merasa kena flu. "Tengah malam itu juga saya kontak dengan petugas Puskesmas Nawangan dan Bidan Desa untuk melakukan respon dan pengobatan seperlu. Dan alhamdulillah esok paginya sehat kembali. Kena pengaruh hawa dingin Nawangan," kelakarnya.

Kesadaran Wahyudi dan Suratman ini diapresiasi oleh Pemerintah Desa dan Pemerintah Kecamatan juga warga masyarakat desa, dengan kesadaran dan sukarela menawarkan diri untuk menjalani isolasi/karantina mandiri di rumahnya masing-masing. Wahyudi sudah hari ke-5 pada hari ini (06/04/2020) melakukan isolasi sejak kedatangannya tanggal 1 April 2020 yang lalu dan Suratman sudah hari yang ke-8 sejak kedatangannya tanggal 29 Maret 2020 yang lalu. Dan terus dipantau perkembangannya oleh Pemerintah Desa, maupun aparat lain di tingkat kecamatan khususnya dari Puskesmas.

Sarmin selaku Kepala Desa juga dukungan dari Pemerintah Kecamatan, Babinsa, Babinkamtibmas juga masyarakat merasa bangga dengan warganya yang memiliki kesadaran tinggi untuk melaksanakan isolasi mandiri setelah tiba di desa dari luar daerah. "Semoga ini menjadi contoh yang baik bagi pemudik yang lain untuk melaksanakan karantina mandiri sesuai anjuran pemerintah, sebagai upaya pemutus mata rantai Covid-19, dan menurut data yang ada beberapa warga yang berasal dari luar kota sudah melaksanakan karantina mandiri," pungkas Sarmin. [friend]

0 komentar:

Posting Komentar