Rabu, 17 Juli 2019

MENGGEMBIRAKAN EKSPEDISI DESTANA TSUNAMI 2019

Bagi saya hal ini merupakan pengalaman baru yang cukup menggembirakan, momen silaturahim dengan konco-konco pegiat destana dan kemanusiaan bisa berkumpul, melihat langsung semangat MDMC dan Muhammadiyah di daerah dalam upaya pengurangan resiko bencana tsunami.
Perjalanan ini bermula dari ujung timur dan berkahir ujung barat Pulau Jawa.
Pada segmen Jawa Timur, adapun kota/kabupaten yg berpartisipasi antara lain di Kab. Banyuwangi, Kab. Jember, Kab. Lumajang, Kab. Malang, Kab. Blitar, Kab. Tulungagung, Kab. Trenggalek dan berakhir di Kab. Pacitan.
Dalam kegiatan ini, Muhammadiyah melalui MDMC turut menyemarakkan dan mengisi rangkaian acara di tiap titik, antara lain dengan memberikan sosialisasi tentang konsep desa tangguh bencana (destana) tsunami, pengenalan konsep mitigasi bencana di AUM pendidikan dan bakti sosial.
Selama perjalanan, saya pribadi akhirnya bertanya apakah kegiatan pengurangan resiko bencana ini sebagai upaya Amar Ma'ruf Nahi Munkar dan sebagai melaksanakan kewajiban sesama umat manusia untuk saling mengingatkan kebaikan? Betapa tidak, kita bersama2 bisa membelajari alam sebagai ayat Allah yg dititipkan pada tumbuhan, hewan dan lingkungan kita. Disamping itu, kita pun bersama masyarakat mengenal upaya pengurangan dampak buruk kejadian2 alam seperti tsunami dan gempa bumi dengan berikhtiar meningkatkan kemampuan penyelamatan jiwa dan penguatan infrastruktur yang ada.
Saya pun cukup bergembira, jargon Muhammadiyah pada milad 2018 yg bervisi Khairon Ummah; menjadikan umat manusia utama diatas bumi dalam penyampaian ayat2 Allah dan sebagai Khalifah di bumi yg menyebarkan pesan Rahmat untuk sekalian alam semesta bisa terejawantahkan dalam kegiatan ini. Memelihara alam, meningkatkan kemampuan diri dalam mengenal alam (gunung, laut, lempeng bumi, angin dan air) adalah usaha termudah yang sudah disematkan oleh yang kuasa pada diri kita.
Salah satu ciri manusia utama bagi Muhammadiyah adalah kecemerlangan membangun dimensi muammalah (Haedar Nashir). Dimana kegiatan ekspedisi ini adalah sarana membangun dimensi sosial antar umat dan bergembira atas upaya2 pengurangan resiko bencana di daerahnya.
Bencana bukanlah sebuah azab, melainkan cara Allah memberikan kasih sayang dan sarana pembelajaran bagi kaum Ulil albab. Oleh karena itu mari kita bergembira dalam perjalan pengurangan resiko bencana di bumi Pertiwi ini.
(Sebuah catatan singkat , Kepanjen 17Juli19)

Ditulis oleh : 
Priyo A. Sancoyo bersama Indra Fery dan 5 lainnya di Kota Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur, 65163.
Sumber :  https://www.facebook.com/cak.priyoas/posts/10219846356098386?comment_id=10219846465141112&reply_comment_id=10219846585904131&notif_id=1563322509881800&notif_t=mentions_comment

0 komentar:

Posting Komentar