One Muhammadiyah One Response (OMOR)

Diskusi di Lokasi Bencana Desa Gembuk untuk mematangkan konsep OMOR di Pacitan'

Relawan Muhammadiyah Pacitan

TDRR Tanah Longsor Desa Gembuk Kec. Kebonagung

Dusun Jajar Desa Sempu Kec. Nawangan

Menanam adalah Sedekah

Pacitan : 29 Pebruari - 1 Maret 2020'

“Relawan Muhammadiyah/MDMC Meningkatkan Kapasitas”

Minggu, 30 Desember 2018

Lazismu Pacitan Serahkan Bantuan Rumah Korban Longsor



PWMU.CO – Bersamaan dengan acara refleksi satu tahun bencana banjir dan longsor, Sabtu, (22/12/18), Lazismu Pacitan menyerahkan bantuan rumah relokasi senilai Rp 15 juta.

Bantuan ini diberikan kepada Ibu Sumarni, warga Dusun Dadapan, Desa Klesem, Kecamatan Kebonagung, Pacitan. Sudah satu tahun terakhir ini, ibu berputra satu ini terpaksa tinggal di rumah saudara perempuannya.

Rumahnya hancur rata terpendam tanah, sementara tanah pekarangannya tidak bisa di tempati lagi, karena habis ikut terbawa longsor, pada saat bencana longsor satu tahun yang lalu (29/12/17).

Saudara perempuannya, merelakan berbagi tanah pekarangan, sehingga dana bantuan ini bisa digunakan untuk memulai membangun rumah tinggalnya.

“Saya ucapkan terimakasih atas bantuan dari Lazismu ini”, kata Sunarmi yang didampingi keponakannya, Toni dan perangkat Desa Klesem, saat menerima bantuan di Gedung Dakwah Muhammadiyah Pacitan.
“Anak saya tidak bisa mengantar, karena masih merantau, mencari nafkah dan mengumpulkan uang untuk membuat rumah lagi,” sambungnya.

Sunarmi belum termasuk warga yang ikut mendapat bantuan rumah relokasi dari pemerintah, karena saat itu belum memiliki tanah yang bisa digunakan untuk mendirikan rumah.

Lazismu yang mengetahui peristiwa ini, kemudian meninjau langsung ke lokasi dan berkoordinasi dengan perangkat desa setempat. Selanjutnya berupaya menghimpun donasi, untuk ibu Sunarmi ini.

Bantuan ini diterimakan secara simbolis oleh Ketua MDMC Pusat Budi Setiawan, disaksikan oleh Ketua PDM pacitan, Suprayitno Ahmad dan segenap undangan. (Isa Ansori)

 Dikutip dari :
 https://pwmu.co/83566/12/24/lazismu-pacitan-serahkan-bantuan-rumah-korban-longsor/

Di Pacitan Adakan Refleksi Setahun Bencana, di Banten Malah Terjadi Tsunami


PWMU.CO-Semua tidak menyangka, MDMC mengadakan acara refleksi setahun bencana Pacitan, Sabtu (22/12/2018), ternyata malam harinya terjadi bencana tsunami di Banten dan Lampung.

Itulah sifat bencana. Berbagai kemungkinan bencana bisa diprediksi, tetapi kapan terjadinya tidak bisa dipastikan. “Refleksi ini lebih pada upaya mengingat dan menyiapkan diri menghadapi berbagai kemungkinan bencana yang terjadi,” kata Agus Hadi Prabowo, ketua MDMC Pacitan.

Sebagaimana tahun 2017, sambung dia, kita fokus pada kemungkinan tsunami di Pacitan, ternyata yang terjadi malah bencana banjir dan tanah longsor.

Acara ini juga menghadirkan Ketua MDMC Pusat  Budi Setiawan. Dalam paparannya, Budi menjelaskan analisisnya tentang perbedaan ciri bencana yang terjadi di Lombok dan Palu. “Masing-masing punya ciri yang berbeda, meskipun sama-sama gempa dan tsunami,” kata Budi.

“Bencana di Palu mengakibatkan liquifaksi,  sebuah akibat dari gempa yang lama tidak kita dengar. Ini berbeda dengan gempa dan tsunami di Lombok,” lanjutnya.

“Bagaimana ngeri dan dahsyatnya akibat liquifaksi, tiba-tiba sebuah desa yang penuh rumah dan padat penduduknya tenggelam, menyisakan lumpur kering,” urainya.

Bencana tidak bisa diatasi oleh salah satu pihak. “Untuk itu diharapkan sinergi dari berbagai instansi dan elemen masyarakat untuk mengantisipasi sebelum terjadi sampai pada penanganan pasca bencana,” harap Budi.

Refleksi bencana ini dihadiri oleh Kepala BPBD,  Kepala Satpol PP dan Linmas, instansi terkait lainnya, dan beberapa perwakilan ormas dan tokoh masyarakat. (Isa Ansori)

Membaca Kebencanaan secara Holistik


BANTUL, Suara Muhammadiyah – Rentetan bencana alam terjadi di Indonesia, tsunami menerjang sekitar Selat Sunda beberapa waktu lalu. Sebelumnya dalam lima bulan terakhir ada dua bencana alam besar lainnya, yakni Tsunami Palu Sulawesi Tengah dan gempa bumi Lombok NTB yang sudah memakan banyak korban. Dalam hal ini masyarakat Indonesia dihantui pertanyaan seberapa besar potensi bencana alam terjadi di Indonesia.
Tak jarang pula tindakan keliru terjadi, sehingga bukannya menemukan solusi justru menambah runyam situasi. Sri Atmaja P Rosyidi, PhD, dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta memaparkan hal tersebut dalam Refleksi AKhir Tahun 2018 dan Outlook 2019 Program Pascasarjana UMY, pada Sabtu (29/12). Dalam kegiatan yang bertemakan Sebuah Catatan Perjalanan Bangsa di Ruang Sidang Direktur Pascasarjana UMY, Kampus Terpadu UMY tersebut, Sri menyampaikan materi tentang Strukturalisasi Penyadaran Bencana Holistik: Membaca Kebencanaan untuk Pembelajaran Pengurangan Resiko.
Untuk mencegah sebuah bencana sangat mustahil baik itu gempa bumi, Tsunami, gunung meletus dan yang lainnya. Sekarang adalah mencari solusi agar ketika bencana itu datang korban yang terdampak dapat diminimalisir atau kalau bisa tidak menimpa korban jiwa. Salah satunya dengan mencari formula bersama untuk membuat sebuah perencanaan gedung yang tak mudah runtuh dan senantiasa aman dari bencana.
“Sebenarnya gempa itu tak selamanya membuat orang meninggal dan merasa bahaya, justru gedung-gedung yang ada lah yang dapat menimbulkan terjadinya korban jiwa. Jadi jangan salahkan bencananya, tetapi mulai dengan infrastruktur yang bisa mencegah jatuhnya banyak korban. Seperti contohnya kita juga harus sadar jangan membangun sesuatu misal perumahan di atas bantaran sungai, karena itu sama saja mendekatkan pada bencana. Edukasi mengenai kebencanaan harus ditanam sejak dini, karena di Indonesia belum ada mata pelajaran yang membahas penanggulangan kebencanaan sejak usia dini seperti yang baru dicanangkan Mendikbud meski sangat terlambat,” papar Sri Atmaja.
Tak hanya itu, masih banyak pula aspek lainnya yang kemudian menjadi kekeliruan informasi dalam menyikapi bencana yang terjadi di Indonesia, seperti saat terjadi gempa bumi Lombok pada 5 Agustus 2018 dimana masyarakat sekitar mengaitkan bencana dengan mitos bahwa gunung Rinjani sudah tak suci lagi.
“Saya hampir 10 hari berada di Lombok pasca gempa bumi terjadi, di situ rupa-rupanya ketika sebuah penyadaran kebencanaan terlambat, yang muncul adalah sisi sosial spiritual yang melenceng, seperti munculnya mitos. ‘Mengapa terjadi bencana di Lombok?’ Sebagian dari mereka beranggapan gunung Rinjani sudah tidak suci lagi, karena menurut orang dulu orang yang mendaki Rinjani harus orang suci, sekarang banyak orang asing datang ke sana. Kita tidak bisa menyalahkan mitos itu, karena terjadi keterlambatan penyadaran mengenai informasi bencana,” papar Direktur Pascasarjana UMY ini lagi.
Kemudian dari fakta ini bisa ditarik benang merah mengenai keterlambatan penyadaran mengenai bencana alam, yang kembali terulang pada bencana di Pantai Anyer, Banten. Sri Atmaja meyakini jika dari otoritas berwenang sudah menyadari aktifitas dari gunung Anak Krakatau, dan memberikan himbauan untuk menjauhi daerah rawan bencana maka korban yang jatuh tidak akan lebih dari 400 orang. “Ketika gunung Anak Krakatau sudah menunjukkan aktifitasnya, harusnya sudah ada peringatan secara struktural. Saya yakin jika sudah ada himbauan terlebih dahulu tidak akan mungkin terjadi 400 korban jiwa melayang. Tapi faktanya galakkan kunjungan ke pantai menjadi sebuah program, karena menambah pendapatan daerah,” kata Sri Atmaja. (Habibi)

Disalin dari :  http://www.suaramuhammadiyah.id/2018/12/29/membaca-kebencanaan-secara-holistik/?fbclid=IwAR24y3Dt7qsCOj-oZEkL0zJHWK6P7k5W_OrTRbJJ8Wer0Ax9Yx9yLlaYK0g

Sabtu, 29 Desember 2018

MDMC Lampung Terjunkan 34 Relawan Bantu Warga Terdampak Tsunami Selat Sunda



MUHAMMADIYAH.ID, LAMPUNG – Lampung diterjang gelombang tsunami pada Sabtu (22/12/2018), Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC)bersama LAZISMUterjunkan tim secara bergelombang ke lokasi bencana di Kecamatan Rajabasa, Kalianda, Lampung Selatan (Lamsel) guna memberikan pelayanan maksimal kepada korban bencana.
Bencana tsunami ini terjadi karena air laut yang pasang dan diduga karena letusan anak gunung Krakatau, tsunami ini terjadi tidak ada pertanda apapun pra bencana.
“Beberapa warga sempat melarikan diri ketika terjangan ombak pertama, kemudian setelah ombak pertama air kembali surut seketika dan terjadi terjangan ombak yg kedua kalinya lebih besar hingga membuat bangunan ratah dengan tanah,” ungkap Sulis, Penyitas warga Kecamatan Rajabasa.
Sementara itu, ketua MDMC Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Lampung, Ahsanul Huda megatakan sudah melakukan pendataan terkait bencana yang terjadi dibeberapa titik.
“Hasil dari temuan pendataan yang kita lakukan, kemudian akan dilakukan aksi lanjutan. Apa-apa saja yang bisa kita berikan kepada korban,” katanya kepada tim Muhammadiyah.id melalui whatsapp, Senin (24/12)
Tim awal yang diterjunkan berasal dari MDMC Metro Lampung, sebanyak 34 relawan.
“Kita bagi-bagi tugas, penjadwalan ada yang jaga waktu pagi dan malam hari. Ini diharapkan pelayanan yang diberikan bisa maksimal kepada korban, serta bisa menjaga dan memaksimalkan stamina relawan,” ungkapnya.
MDMC saat ini di bawah pengawasan MDMC PWM Lampung sudah mendirikan Posko Koordinasi (Poskor) yang berada di Sekolah Menangah Pertama (SMP) Muhammadiyah 1 Rajabasa. Jl Rajabasa Kecamatan, Rajabasa, Lampung Selatan yang bisa diakses oleh korban bencana tsunami Lampung.
Tercatat sampai hari Senin 24 Desember 2018, jam 11.32 wib, data yang diterima oleh MDMC PWM Lampung, korban meninggal 60 jiwa, luka-luka 223 jiwa, pengungsi 400 jiwa lebih, dan korban hilang belum terkonfirmasi.
“Hari Senin (24/12) ini kami mulai pendirian dapur umum, serta mulai membukan layanan kesehatan. Untuk kebutuhan mendesak yang saat ini dibutuhkan oleh penyitas adalah hygent kit (alat mandi) dan selimut. Mengingat cuaca saat ini sedang tidak baik, sering hujan,” urainya.
Pelayanan selain diberikan oleh MDMC PWM Lampung, hadirjuga Lazismu PWM Lampung, MDMC Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lampung Selatan, Lazismu Lampung Selatan, KOKAM PW PM Lampung, dan KOKAM PDPM Lampung Selatan.
“Selain itu, nanti juga akan ada bantuan dari MDMC Bengkulu, MDMC Palembang, dan MDMC Sumatera Barat. Mereka sudah konfirmasi akan hadir masing-masing 5 orang,” jelasnya. (a’n)


Sumber: http://m.muhammadiyah.or.id/id/news-15637-detail-mdmc-lampung-terjunkan-34-relawan-bantu-korban-tsunami-selat-sunda.html

Jumat, 28 Desember 2018

POSKO DONASI KEBENCANAAN

"POSKO DONASI KEBENCANAAN" Lazismu-MDMC Pacitan. Monggo Bapak/Ibu/Dermawan untuk membantu meringankan Saudara2 kita yang terdampak Bencana baik di Anyer Banten, Lampung, Jember Jatim dan daerah terdampak lainnya. Kami membuka Penggalangan Donasi dari tgl: 23 Desember 2018 s/d 31 Januari 2019.
Lebih rinci klik Menu Donasi Bencana - LazisMu