One Muhammadiyah One Response (OMOR)

Diskusi di Lokasi Bencana Desa Gembuk untuk mematangkan konsep OMOR di Pacitan'

Relawan Muhammadiyah Pacitan

TDRR Tanah Longsor Desa Gembuk Kec. Kebonagung

Dusun Jajar Desa Sempu Kec. Nawangan

Menanam adalah Sedekah

Sarasehan 14 September 2021'

“Pengurangan Risiko Bencana Berbasis Komunitas”

Minggu, 11 Februari 2018

SMTB : Kegiatan Pasca Bencana


Masa pasca bencana sama pentingnya dengan kegiatan-kegiatan tanggap darurat. Sementara ini kita di Pacitan juga terjebak dengan kegiatan-kegiatan pada masa tanggap darurat dan menyerahkan sepenuhnya kegiatan pasca bencana ini diserahkan kepada pihak "pemerintah" semata.
Tidak dipungkiri bahwa kegiatan pasca bencana memerlukan beberapa yang perlu dipertimbangkan setidaknya antara lain :
1. perencanaan seseuai kebutuhan;
2. ketersediaan SDM dengan keahlian tertentu;
3. ketersediaan waktu, dana dan biaya;
3. komitmen dan keberlanjutan;
jika tidak direncanakan sampai dengan kegiatan pasca bencana yang berkelanjutan justru akan berpotensi menimbulkan permasalahan baru kalau tidak tidak boleh disebut "bencana baru". Perencanaan sesuai dengan pengkajian kebutuhan pasca bencana juga analisa risiko bencana sesuai kekhasan dan karakteristik lokasi bencana. Ketersediaan SDM, ini sangat penting, untuk mengelola kegiatan-kegiatan pasca bencana dari hasil pengkajian yang telah dilakukan. Perlu SDM yang bisa memberikan fasilitas perubahan dan membuka cakrawala bagi "warga" untuk bisa mengurangi risiko bencana. Di sinilah diperlukan SDM yang peduli dan kompeten untuk berupaya mengurangi risiko bencana. Ketersediaan waktu, dan biaya, kegiatan-kegiatan pasca bencana tidak diketahui kapan berakhirnya. Maka upaya yang dilakukan seakan-akan tidak diketahui bagaimana hasilnya - karena hasil kegiatan-kegiatan pasca bencana akan terlihat jika terjadi bencana - sehingga sangat jelas diperlukan waktu, dan dana yang tidak terbatas, untuk itu diperlukan komiten dan berkelanjutan dari semua stakeholder yang terlibat dalam penanggulangan bencana berbasis masyarakat, sebagai upaya pengurangan risiko bencana. 
MDMC dan Muhammadiyah sebagai organisasi sosial agama dan kemasyarakatan dengan mempertimbangkan hal-hal tersebut di atas perlu melakukan kegiatan penguatan kompetensi dan kapasitas  sangat diperlukan. Langkah yang strategis telah dicanangkan MDMC untuk membuka Sekolah Madrasah Tangguh Bencana (SMTB) untuk masa mitigasi/kesiapsiagaan pada masa pasca bencana di samping kegiatan dan proses rehabilitasi dan rekostruksi yang telah dilakukan. SMTB sasarannya adalah sekolah dan madrasah di bawah pembinaan Muhammadiyah juga merambah ke sekolah/madrasah negeri dan swasta di daerah rawan bencana.


Sasaran awal kegiatan SMTB MDMC adalah memberikan pemahaman dan informasi awal yang representatif agar dapat mengurangi risiko bencana, jikalau bencana memang datang. Mengenali bencana dan mengurangi risikonya, tanpa meninggalkan kearifan lokal yang sudah ada sebelumnya.

Beberapa rangkaian kegiatan SMTB MDMC dalam jangka waktu Pebruari - April 2018 kegiatan yang dilakukan antara lain :
1. Workshop Manajemen Bencana
2. Workshop Kajian Risiko Bencana
3. Pelatihan PPGD
4. Gladi Posko/Lapang

peserta kegiatan dari Komite, Guru/Siswa TK/MI/MTs/SMP/SMA/SMK Muhammadiyah di Pacitan juga melibatkan sekolah/madrasah lain yang terdampak banjir dan tanah longsor. Sebagao fasilitator diharapkan dari MDMC Pimpinan Pusat Muhammadiyah, MDMC Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, dan BPBD Kab. Pacitan. Diharapkan pada perkembangan lebih lanjut ada sekolah/madrasah yang menjadi rujukan sebagai Sekolah Madrasah Tangguh Bencana.

Dengan bencana, kita BERSAMA-SAMA BANGKIT DAN KUAT KEMBALI.......(ahp)

Nashrun minallah.......


Ditulis oleh :
Agus Hadi Prabowo
Ketua MDMC Pacitan

Sabtu, 10 Februari 2018

Muhammadiyah Jatim Siapkan Sekolah Tangguh Bencana


PWMU.CO – Majelis Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (MLHPB) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur menggelar Pra Workshop Sekolah Tangguh Bencana di Kantor PWM Jatim, Jumat (9/2/18).

Ketua MLHPB PWM Jatim M Rofii menyampaikan, acara ini dimaksudkan untuk penguatan sekolah Muhammadiyah agar siap dan tangguh menghadapi bencana, khususnya sekolah Muhammadiyah di Kabupaten Pacitan.
“Ini adalah upaya MLHPB untuk mewujudkan sekolah tanggap bencana di Jatim,” ujar Rofii di hadapan puluhan peserta.
Rofii menegaskan, urusan kebencanaan adalah urusan kemanusiaan yang sifatnya multikultural dan multidimensi.
“Bencana itu soal menolong dan membantu orang yang sedang terkena musibah. Bukan hanya soal agama, ras, atau lainnya. Murni urusan kemanusiaan,” tegasnya.

 Peserta dari MDMC Pacitan

Untuk itu, Rofii berharap sinergi dari semua pihak untuk dapat mewujudkan sekolah tanggap bencana di Jatim, terutama sinergi dari Majelis Dikdasmen PWM Jatim.
“Kami tidak akan bisa mewujudkan sekolah tanggap bencana tanpa dukungan dari Majelis Dikdasmen PWM Jatim yang merupakan domainnya,” ungkapnya. (Aan)


Sumber :
https://pwmu.co/53429/2018/02/muhammadiyah-jatim-siapkan-sekolah-tangguh-bencana/ (10/02/2018 pukul 11:43 WIB)
dengan penambahan foto dari GWA MDMC Pacitan

Jumat, 09 Februari 2018

Pengurangan Risiko Bencana (PRB)

Pengurangan risiko bencana adalah salah satu system pendekatan untuk mengindentifikasi, mengevaluasi dan mengurangi risiko yang diakibatkan oleh bencana. Tujuan utamanya untuk mengurangi risiko fatal di bidang social, ekonomi dan juga lingkungan alam serta penyebab pemicu bencana: PRB sangat dipengaruhi oleh penelitian masal pada hal-hal yang mematikan, dan telah dicetak/dipublikasikan sejak pertengahan tahun 1970.
Ini merupakan bentuk tanggung jawab dan perkembangan dari agen sejenis Badan Penyelamat, dan seharusnya kegiatan ini berkesinambungan, serta menjadi bagian dari kesatuan kegiatan organisasi ini, tidak hanya melakukannya secara musiman pada sa'at terjadi bencana. Oleh karenanya jangkauan(PRB) sangat luas. Cakupannya lebih luas dan dalam, dibanding manajemen penanggulangan bencana darurat yang biasa, PRB dapat melakukan inisiatif kegiatan dalam segala bidang pembangunan dan kemanusiaan.

Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) merumuskan PRB sebagai agen sejenis UNISDR dan UNDP:
"Kerangka konsep kerja yang bagian-bagiannya telah mempertimbangkan segala kemungkinan untuk memperkecil resiko kematian dan bencana melalui lingkungan masyarakat, untuk menghindari (mencegah) atau untuk membatasi (menghadapi dan mempersiapkan) kemalangan yang disebabkan oleh marabahaya, dalam konteks yang lebih luas dari pembangunan yang berkelanjutan”.

Sejak tahun 1970 evolusi pemikiran dan praktek managemen bencana telah mengalami kemajuan pengertian yang semakin luas dan dalam, tentang mengapa bencana alam terjadi, disertai oleh pendekatan dan analisa secara menyeluruh yang lebih terfokus, untuk mengurangi risikonya pada masyarakat. Paradigma managemen modern – Pengurangan Resiko Bencana (PRB), merupakan langkah terbaru dalam bidang ini. PRB secara resmi merupakan konsep baru,Namun pemikiran dan prakteknya telah diterapkan jauh sebelum konsep ini dicetuskan, dan sekarang PRB telah diterapkan oleh organisasi internasional, pemerintah, perancang bencana dan organisasi kemasyarakatan.
 
PRB merupakan konsep yang mencakup segala bidang, dan telah terbukti sulit untuk mendefinisikan atau menjelaskan secara rinci, namun cakupan idenya sangat jelas. Tak dapat dihindari, ada beberapa definisi istilah yang dipakai dalam buku pedoman, tetapi pada umumnya artinya mudah dimengerti dan diterapkan dalam cakupan pembangunan, dalam kebijakan-kebijakan, strategi dan praktek, untuk mengurangi risiko kematian dan kerugian akibat bencana pada masyarakat. Istilah "Managemen Pengurangan Risiko Bencana” sering digunakan dalam konteks dan arti yang sama; pendekatan systematis, untuk mengindentifikasi, mengevaluasi dan mengurangi segala resiko yang berkaitan dengan malapetaka (marabahaya) dan kegiatan manusia. Sangat layak diterapkan operasional PRB; Implementasi praktis dari inisiatif PRB.


Source Wikipedia


http://www.ecoflores.org/id/pengurangan+risiko+bencana/