One Muhammadiyah One Response (OMOR)

Diskusi di Lokasi Bencana Desa Gembuk untuk mematangkan konsep OMOR di Pacitan'

Relawan Muhammadiyah Pacitan

TDRR Tanah Longsor Desa Gembuk Kec. Kebonagung

Dusun Jajar Desa Sempu Kec. Nawangan

Menanam adalah Sedekah

Sarasehan 14 September 2021'

“Pengurangan Risiko Bencana Berbasis Komunitas”

Minggu, 30 Desember 2018

Lazismu Pacitan Serahkan Bantuan Rumah Korban Longsor



PWMU.CO – Bersamaan dengan acara refleksi satu tahun bencana banjir dan longsor, Sabtu, (22/12/18), Lazismu Pacitan menyerahkan bantuan rumah relokasi senilai Rp 15 juta.

Bantuan ini diberikan kepada Ibu Sumarni, warga Dusun Dadapan, Desa Klesem, Kecamatan Kebonagung, Pacitan. Sudah satu tahun terakhir ini, ibu berputra satu ini terpaksa tinggal di rumah saudara perempuannya.

Rumahnya hancur rata terpendam tanah, sementara tanah pekarangannya tidak bisa di tempati lagi, karena habis ikut terbawa longsor, pada saat bencana longsor satu tahun yang lalu (29/12/17).

Saudara perempuannya, merelakan berbagi tanah pekarangan, sehingga dana bantuan ini bisa digunakan untuk memulai membangun rumah tinggalnya.

“Saya ucapkan terimakasih atas bantuan dari Lazismu ini”, kata Sunarmi yang didampingi keponakannya, Toni dan perangkat Desa Klesem, saat menerima bantuan di Gedung Dakwah Muhammadiyah Pacitan.
“Anak saya tidak bisa mengantar, karena masih merantau, mencari nafkah dan mengumpulkan uang untuk membuat rumah lagi,” sambungnya.

Sunarmi belum termasuk warga yang ikut mendapat bantuan rumah relokasi dari pemerintah, karena saat itu belum memiliki tanah yang bisa digunakan untuk mendirikan rumah.

Lazismu yang mengetahui peristiwa ini, kemudian meninjau langsung ke lokasi dan berkoordinasi dengan perangkat desa setempat. Selanjutnya berupaya menghimpun donasi, untuk ibu Sunarmi ini.

Bantuan ini diterimakan secara simbolis oleh Ketua MDMC Pusat Budi Setiawan, disaksikan oleh Ketua PDM pacitan, Suprayitno Ahmad dan segenap undangan. (Isa Ansori)

 Dikutip dari :
 https://pwmu.co/83566/12/24/lazismu-pacitan-serahkan-bantuan-rumah-korban-longsor/

Di Pacitan Adakan Refleksi Setahun Bencana, di Banten Malah Terjadi Tsunami


PWMU.CO-Semua tidak menyangka, MDMC mengadakan acara refleksi setahun bencana Pacitan, Sabtu (22/12/2018), ternyata malam harinya terjadi bencana tsunami di Banten dan Lampung.

Itulah sifat bencana. Berbagai kemungkinan bencana bisa diprediksi, tetapi kapan terjadinya tidak bisa dipastikan. “Refleksi ini lebih pada upaya mengingat dan menyiapkan diri menghadapi berbagai kemungkinan bencana yang terjadi,” kata Agus Hadi Prabowo, ketua MDMC Pacitan.

Sebagaimana tahun 2017, sambung dia, kita fokus pada kemungkinan tsunami di Pacitan, ternyata yang terjadi malah bencana banjir dan tanah longsor.

Acara ini juga menghadirkan Ketua MDMC Pusat  Budi Setiawan. Dalam paparannya, Budi menjelaskan analisisnya tentang perbedaan ciri bencana yang terjadi di Lombok dan Palu. “Masing-masing punya ciri yang berbeda, meskipun sama-sama gempa dan tsunami,” kata Budi.

“Bencana di Palu mengakibatkan liquifaksi,  sebuah akibat dari gempa yang lama tidak kita dengar. Ini berbeda dengan gempa dan tsunami di Lombok,” lanjutnya.

“Bagaimana ngeri dan dahsyatnya akibat liquifaksi, tiba-tiba sebuah desa yang penuh rumah dan padat penduduknya tenggelam, menyisakan lumpur kering,” urainya.

Bencana tidak bisa diatasi oleh salah satu pihak. “Untuk itu diharapkan sinergi dari berbagai instansi dan elemen masyarakat untuk mengantisipasi sebelum terjadi sampai pada penanganan pasca bencana,” harap Budi.

Refleksi bencana ini dihadiri oleh Kepala BPBD,  Kepala Satpol PP dan Linmas, instansi terkait lainnya, dan beberapa perwakilan ormas dan tokoh masyarakat. (Isa Ansori)

Membaca Kebencanaan secara Holistik


BANTUL, Suara Muhammadiyah – Rentetan bencana alam terjadi di Indonesia, tsunami menerjang sekitar Selat Sunda beberapa waktu lalu. Sebelumnya dalam lima bulan terakhir ada dua bencana alam besar lainnya, yakni Tsunami Palu Sulawesi Tengah dan gempa bumi Lombok NTB yang sudah memakan banyak korban. Dalam hal ini masyarakat Indonesia dihantui pertanyaan seberapa besar potensi bencana alam terjadi di Indonesia.
Tak jarang pula tindakan keliru terjadi, sehingga bukannya menemukan solusi justru menambah runyam situasi. Sri Atmaja P Rosyidi, PhD, dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta memaparkan hal tersebut dalam Refleksi AKhir Tahun 2018 dan Outlook 2019 Program Pascasarjana UMY, pada Sabtu (29/12). Dalam kegiatan yang bertemakan Sebuah Catatan Perjalanan Bangsa di Ruang Sidang Direktur Pascasarjana UMY, Kampus Terpadu UMY tersebut, Sri menyampaikan materi tentang Strukturalisasi Penyadaran Bencana Holistik: Membaca Kebencanaan untuk Pembelajaran Pengurangan Resiko.
Untuk mencegah sebuah bencana sangat mustahil baik itu gempa bumi, Tsunami, gunung meletus dan yang lainnya. Sekarang adalah mencari solusi agar ketika bencana itu datang korban yang terdampak dapat diminimalisir atau kalau bisa tidak menimpa korban jiwa. Salah satunya dengan mencari formula bersama untuk membuat sebuah perencanaan gedung yang tak mudah runtuh dan senantiasa aman dari bencana.
“Sebenarnya gempa itu tak selamanya membuat orang meninggal dan merasa bahaya, justru gedung-gedung yang ada lah yang dapat menimbulkan terjadinya korban jiwa. Jadi jangan salahkan bencananya, tetapi mulai dengan infrastruktur yang bisa mencegah jatuhnya banyak korban. Seperti contohnya kita juga harus sadar jangan membangun sesuatu misal perumahan di atas bantaran sungai, karena itu sama saja mendekatkan pada bencana. Edukasi mengenai kebencanaan harus ditanam sejak dini, karena di Indonesia belum ada mata pelajaran yang membahas penanggulangan kebencanaan sejak usia dini seperti yang baru dicanangkan Mendikbud meski sangat terlambat,” papar Sri Atmaja.
Tak hanya itu, masih banyak pula aspek lainnya yang kemudian menjadi kekeliruan informasi dalam menyikapi bencana yang terjadi di Indonesia, seperti saat terjadi gempa bumi Lombok pada 5 Agustus 2018 dimana masyarakat sekitar mengaitkan bencana dengan mitos bahwa gunung Rinjani sudah tak suci lagi.
“Saya hampir 10 hari berada di Lombok pasca gempa bumi terjadi, di situ rupa-rupanya ketika sebuah penyadaran kebencanaan terlambat, yang muncul adalah sisi sosial spiritual yang melenceng, seperti munculnya mitos. ‘Mengapa terjadi bencana di Lombok?’ Sebagian dari mereka beranggapan gunung Rinjani sudah tidak suci lagi, karena menurut orang dulu orang yang mendaki Rinjani harus orang suci, sekarang banyak orang asing datang ke sana. Kita tidak bisa menyalahkan mitos itu, karena terjadi keterlambatan penyadaran mengenai informasi bencana,” papar Direktur Pascasarjana UMY ini lagi.
Kemudian dari fakta ini bisa ditarik benang merah mengenai keterlambatan penyadaran mengenai bencana alam, yang kembali terulang pada bencana di Pantai Anyer, Banten. Sri Atmaja meyakini jika dari otoritas berwenang sudah menyadari aktifitas dari gunung Anak Krakatau, dan memberikan himbauan untuk menjauhi daerah rawan bencana maka korban yang jatuh tidak akan lebih dari 400 orang. “Ketika gunung Anak Krakatau sudah menunjukkan aktifitasnya, harusnya sudah ada peringatan secara struktural. Saya yakin jika sudah ada himbauan terlebih dahulu tidak akan mungkin terjadi 400 korban jiwa melayang. Tapi faktanya galakkan kunjungan ke pantai menjadi sebuah program, karena menambah pendapatan daerah,” kata Sri Atmaja. (Habibi)

Disalin dari :  http://www.suaramuhammadiyah.id/2018/12/29/membaca-kebencanaan-secara-holistik/?fbclid=IwAR24y3Dt7qsCOj-oZEkL0zJHWK6P7k5W_OrTRbJJ8Wer0Ax9Yx9yLlaYK0g

Sabtu, 29 Desember 2018

MDMC Lampung Terjunkan 34 Relawan Bantu Warga Terdampak Tsunami Selat Sunda



MUHAMMADIYAH.ID, LAMPUNG – Lampung diterjang gelombang tsunami pada Sabtu (22/12/2018), Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC)bersama LAZISMUterjunkan tim secara bergelombang ke lokasi bencana di Kecamatan Rajabasa, Kalianda, Lampung Selatan (Lamsel) guna memberikan pelayanan maksimal kepada korban bencana.
Bencana tsunami ini terjadi karena air laut yang pasang dan diduga karena letusan anak gunung Krakatau, tsunami ini terjadi tidak ada pertanda apapun pra bencana.
“Beberapa warga sempat melarikan diri ketika terjangan ombak pertama, kemudian setelah ombak pertama air kembali surut seketika dan terjadi terjangan ombak yg kedua kalinya lebih besar hingga membuat bangunan ratah dengan tanah,” ungkap Sulis, Penyitas warga Kecamatan Rajabasa.
Sementara itu, ketua MDMC Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Lampung, Ahsanul Huda megatakan sudah melakukan pendataan terkait bencana yang terjadi dibeberapa titik.
“Hasil dari temuan pendataan yang kita lakukan, kemudian akan dilakukan aksi lanjutan. Apa-apa saja yang bisa kita berikan kepada korban,” katanya kepada tim Muhammadiyah.id melalui whatsapp, Senin (24/12)
Tim awal yang diterjunkan berasal dari MDMC Metro Lampung, sebanyak 34 relawan.
“Kita bagi-bagi tugas, penjadwalan ada yang jaga waktu pagi dan malam hari. Ini diharapkan pelayanan yang diberikan bisa maksimal kepada korban, serta bisa menjaga dan memaksimalkan stamina relawan,” ungkapnya.
MDMC saat ini di bawah pengawasan MDMC PWM Lampung sudah mendirikan Posko Koordinasi (Poskor) yang berada di Sekolah Menangah Pertama (SMP) Muhammadiyah 1 Rajabasa. Jl Rajabasa Kecamatan, Rajabasa, Lampung Selatan yang bisa diakses oleh korban bencana tsunami Lampung.
Tercatat sampai hari Senin 24 Desember 2018, jam 11.32 wib, data yang diterima oleh MDMC PWM Lampung, korban meninggal 60 jiwa, luka-luka 223 jiwa, pengungsi 400 jiwa lebih, dan korban hilang belum terkonfirmasi.
“Hari Senin (24/12) ini kami mulai pendirian dapur umum, serta mulai membukan layanan kesehatan. Untuk kebutuhan mendesak yang saat ini dibutuhkan oleh penyitas adalah hygent kit (alat mandi) dan selimut. Mengingat cuaca saat ini sedang tidak baik, sering hujan,” urainya.
Pelayanan selain diberikan oleh MDMC PWM Lampung, hadirjuga Lazismu PWM Lampung, MDMC Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lampung Selatan, Lazismu Lampung Selatan, KOKAM PW PM Lampung, dan KOKAM PDPM Lampung Selatan.
“Selain itu, nanti juga akan ada bantuan dari MDMC Bengkulu, MDMC Palembang, dan MDMC Sumatera Barat. Mereka sudah konfirmasi akan hadir masing-masing 5 orang,” jelasnya. (a’n)


Sumber: http://m.muhammadiyah.or.id/id/news-15637-detail-mdmc-lampung-terjunkan-34-relawan-bantu-korban-tsunami-selat-sunda.html

Jumat, 28 Desember 2018

POSKO DONASI KEBENCANAAN

"POSKO DONASI KEBENCANAAN" Lazismu-MDMC Pacitan. Monggo Bapak/Ibu/Dermawan untuk membantu meringankan Saudara2 kita yang terdampak Bencana baik di Anyer Banten, Lampung, Jember Jatim dan daerah terdampak lainnya. Kami membuka Penggalangan Donasi dari tgl: 23 Desember 2018 s/d 31 Januari 2019.
Lebih rinci klik Menu Donasi Bencana - LazisMu

Minggu, 11 Februari 2018

SMTB : Kegiatan Pasca Bencana


Masa pasca bencana sama pentingnya dengan kegiatan-kegiatan tanggap darurat. Sementara ini kita di Pacitan juga terjebak dengan kegiatan-kegiatan pada masa tanggap darurat dan menyerahkan sepenuhnya kegiatan pasca bencana ini diserahkan kepada pihak "pemerintah" semata.
Tidak dipungkiri bahwa kegiatan pasca bencana memerlukan beberapa yang perlu dipertimbangkan setidaknya antara lain :
1. perencanaan seseuai kebutuhan;
2. ketersediaan SDM dengan keahlian tertentu;
3. ketersediaan waktu, dana dan biaya;
3. komitmen dan keberlanjutan;
jika tidak direncanakan sampai dengan kegiatan pasca bencana yang berkelanjutan justru akan berpotensi menimbulkan permasalahan baru kalau tidak tidak boleh disebut "bencana baru". Perencanaan sesuai dengan pengkajian kebutuhan pasca bencana juga analisa risiko bencana sesuai kekhasan dan karakteristik lokasi bencana. Ketersediaan SDM, ini sangat penting, untuk mengelola kegiatan-kegiatan pasca bencana dari hasil pengkajian yang telah dilakukan. Perlu SDM yang bisa memberikan fasilitas perubahan dan membuka cakrawala bagi "warga" untuk bisa mengurangi risiko bencana. Di sinilah diperlukan SDM yang peduli dan kompeten untuk berupaya mengurangi risiko bencana. Ketersediaan waktu, dan biaya, kegiatan-kegiatan pasca bencana tidak diketahui kapan berakhirnya. Maka upaya yang dilakukan seakan-akan tidak diketahui bagaimana hasilnya - karena hasil kegiatan-kegiatan pasca bencana akan terlihat jika terjadi bencana - sehingga sangat jelas diperlukan waktu, dan dana yang tidak terbatas, untuk itu diperlukan komiten dan berkelanjutan dari semua stakeholder yang terlibat dalam penanggulangan bencana berbasis masyarakat, sebagai upaya pengurangan risiko bencana. 
MDMC dan Muhammadiyah sebagai organisasi sosial agama dan kemasyarakatan dengan mempertimbangkan hal-hal tersebut di atas perlu melakukan kegiatan penguatan kompetensi dan kapasitas  sangat diperlukan. Langkah yang strategis telah dicanangkan MDMC untuk membuka Sekolah Madrasah Tangguh Bencana (SMTB) untuk masa mitigasi/kesiapsiagaan pada masa pasca bencana di samping kegiatan dan proses rehabilitasi dan rekostruksi yang telah dilakukan. SMTB sasarannya adalah sekolah dan madrasah di bawah pembinaan Muhammadiyah juga merambah ke sekolah/madrasah negeri dan swasta di daerah rawan bencana.


Sasaran awal kegiatan SMTB MDMC adalah memberikan pemahaman dan informasi awal yang representatif agar dapat mengurangi risiko bencana, jikalau bencana memang datang. Mengenali bencana dan mengurangi risikonya, tanpa meninggalkan kearifan lokal yang sudah ada sebelumnya.

Beberapa rangkaian kegiatan SMTB MDMC dalam jangka waktu Pebruari - April 2018 kegiatan yang dilakukan antara lain :
1. Workshop Manajemen Bencana
2. Workshop Kajian Risiko Bencana
3. Pelatihan PPGD
4. Gladi Posko/Lapang

peserta kegiatan dari Komite, Guru/Siswa TK/MI/MTs/SMP/SMA/SMK Muhammadiyah di Pacitan juga melibatkan sekolah/madrasah lain yang terdampak banjir dan tanah longsor. Sebagao fasilitator diharapkan dari MDMC Pimpinan Pusat Muhammadiyah, MDMC Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, dan BPBD Kab. Pacitan. Diharapkan pada perkembangan lebih lanjut ada sekolah/madrasah yang menjadi rujukan sebagai Sekolah Madrasah Tangguh Bencana.

Dengan bencana, kita BERSAMA-SAMA BANGKIT DAN KUAT KEMBALI.......(ahp)

Nashrun minallah.......


Ditulis oleh :
Agus Hadi Prabowo
Ketua MDMC Pacitan

Sabtu, 10 Februari 2018

Muhammadiyah Jatim Siapkan Sekolah Tangguh Bencana


PWMU.CO – Majelis Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (MLHPB) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur menggelar Pra Workshop Sekolah Tangguh Bencana di Kantor PWM Jatim, Jumat (9/2/18).

Ketua MLHPB PWM Jatim M Rofii menyampaikan, acara ini dimaksudkan untuk penguatan sekolah Muhammadiyah agar siap dan tangguh menghadapi bencana, khususnya sekolah Muhammadiyah di Kabupaten Pacitan.
“Ini adalah upaya MLHPB untuk mewujudkan sekolah tanggap bencana di Jatim,” ujar Rofii di hadapan puluhan peserta.
Rofii menegaskan, urusan kebencanaan adalah urusan kemanusiaan yang sifatnya multikultural dan multidimensi.
“Bencana itu soal menolong dan membantu orang yang sedang terkena musibah. Bukan hanya soal agama, ras, atau lainnya. Murni urusan kemanusiaan,” tegasnya.

 Peserta dari MDMC Pacitan

Untuk itu, Rofii berharap sinergi dari semua pihak untuk dapat mewujudkan sekolah tanggap bencana di Jatim, terutama sinergi dari Majelis Dikdasmen PWM Jatim.
“Kami tidak akan bisa mewujudkan sekolah tanggap bencana tanpa dukungan dari Majelis Dikdasmen PWM Jatim yang merupakan domainnya,” ungkapnya. (Aan)


Sumber :
https://pwmu.co/53429/2018/02/muhammadiyah-jatim-siapkan-sekolah-tangguh-bencana/ (10/02/2018 pukul 11:43 WIB)
dengan penambahan foto dari GWA MDMC Pacitan

Jumat, 09 Februari 2018

Pengurangan Risiko Bencana (PRB)

Pengurangan risiko bencana adalah salah satu system pendekatan untuk mengindentifikasi, mengevaluasi dan mengurangi risiko yang diakibatkan oleh bencana. Tujuan utamanya untuk mengurangi risiko fatal di bidang social, ekonomi dan juga lingkungan alam serta penyebab pemicu bencana: PRB sangat dipengaruhi oleh penelitian masal pada hal-hal yang mematikan, dan telah dicetak/dipublikasikan sejak pertengahan tahun 1970.
Ini merupakan bentuk tanggung jawab dan perkembangan dari agen sejenis Badan Penyelamat, dan seharusnya kegiatan ini berkesinambungan, serta menjadi bagian dari kesatuan kegiatan organisasi ini, tidak hanya melakukannya secara musiman pada sa'at terjadi bencana. Oleh karenanya jangkauan(PRB) sangat luas. Cakupannya lebih luas dan dalam, dibanding manajemen penanggulangan bencana darurat yang biasa, PRB dapat melakukan inisiatif kegiatan dalam segala bidang pembangunan dan kemanusiaan.

Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) merumuskan PRB sebagai agen sejenis UNISDR dan UNDP:
"Kerangka konsep kerja yang bagian-bagiannya telah mempertimbangkan segala kemungkinan untuk memperkecil resiko kematian dan bencana melalui lingkungan masyarakat, untuk menghindari (mencegah) atau untuk membatasi (menghadapi dan mempersiapkan) kemalangan yang disebabkan oleh marabahaya, dalam konteks yang lebih luas dari pembangunan yang berkelanjutan”.

Sejak tahun 1970 evolusi pemikiran dan praktek managemen bencana telah mengalami kemajuan pengertian yang semakin luas dan dalam, tentang mengapa bencana alam terjadi, disertai oleh pendekatan dan analisa secara menyeluruh yang lebih terfokus, untuk mengurangi risikonya pada masyarakat. Paradigma managemen modern – Pengurangan Resiko Bencana (PRB), merupakan langkah terbaru dalam bidang ini. PRB secara resmi merupakan konsep baru,Namun pemikiran dan prakteknya telah diterapkan jauh sebelum konsep ini dicetuskan, dan sekarang PRB telah diterapkan oleh organisasi internasional, pemerintah, perancang bencana dan organisasi kemasyarakatan.
 
PRB merupakan konsep yang mencakup segala bidang, dan telah terbukti sulit untuk mendefinisikan atau menjelaskan secara rinci, namun cakupan idenya sangat jelas. Tak dapat dihindari, ada beberapa definisi istilah yang dipakai dalam buku pedoman, tetapi pada umumnya artinya mudah dimengerti dan diterapkan dalam cakupan pembangunan, dalam kebijakan-kebijakan, strategi dan praktek, untuk mengurangi risiko kematian dan kerugian akibat bencana pada masyarakat. Istilah "Managemen Pengurangan Risiko Bencana” sering digunakan dalam konteks dan arti yang sama; pendekatan systematis, untuk mengindentifikasi, mengevaluasi dan mengurangi segala resiko yang berkaitan dengan malapetaka (marabahaya) dan kegiatan manusia. Sangat layak diterapkan operasional PRB; Implementasi praktis dari inisiatif PRB.


Source Wikipedia


http://www.ecoflores.org/id/pengurangan+risiko+bencana/ 

Rabu, 24 Januari 2018

MDMC Dipercaya !!!

Sesuai dengan Keputusan Bupati Pacitan tentang bahwa saat sekarang ini di Kabupaten Pacitan memasuki masa transisi, dari masa tanggap darurat ke masa rehabilitasi dan rekonstruksi. Jika melihat di lapangan memang sudah tidak nampak adanya bekas banjir, bencana yang sempat menjadi viral menimpa warga dan masyarakat Pacitan. Namun tidak boleh dibiarkan begitu saja adalah bencana tanah longsor dan retakan tanah yang merata di seluruh pelosok di Kabupaten Pacitan. Wilayah ancaman longsor yang luas menjadikan atensi dan perhatian khusus dari pihak terkait dengan kebencanaan. Tidak bisa diambil tindakan sebelum ada data yang akurat dan pasti, untuk itu diperlukan data survey yang kredibel.


Pada hari Kamis tanggal 18 Januari 2018, MDMC Pacitan diberikan tugas khusus sebagai tenaga survey Analisa Risiko Bencana yang mencakup 83 titik lokasi yang harus didatangi dan disurvey Relawan MDMC. Kegiatan survey ini dipandu oleh Mercy Corps sebagai mitra kerja BPBD Kabupaten Pacitan. Sedangkan kegiatan survey Pengkajian Kebutuhan Pasca Bencana (Jitu-Pasna) dilakukan oleh beberapa kelompok relawan/komunitas yang lain.
Koordinator Tim MDMC untuk Survey ini dipercayakan kepada Bambang Setyo Utomo, dalam kesempatan Apel Relawan Muhammadiyah (22/01/2018) menekankan bahwa, MDMC dipercaya oleh BPBD untuk itu seluruh relawan MDMC yang bergabung dalam survey ini untuk serius dan melaksanakan kegiatan dengan sebaik-baiknya, diniatkan untuk mengabdi dan belajar. Bambang lebih jauh menyatakan, "jangan malu untuk meminta penjelasan jika menemui kesulitan, ini kegiatan baru, begitu juga bagi MDMC Pacitan."

Pada saat pembekalan surveyor (22/01/2018) Kepala Pelaksana BPBD dalam hal ini diwakili oleh Kasi Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pujono menyatakan, "menaruh harapan besar terhadap MDMC Pacitan dalam membantu kerja BPBD, yaitu mampu memberikan data yang akurat dan tepat terhadap resiko bencana  di masing masing wilayah selepas bencana banjir dan longsor yang telah terjadi".

Kurang lebih harapan yg sama di sampaikan Rinto Andriono yang fasilitator Mercy Corp yang menjadi mitra/konsultan BPBD Pacitan dalam perencanaan Rehabilitasi dan Rekonstruksi pasca bencana pada saat pembekalan surveyor, yaitu : "MDMC selama ini dipandang mampu untuk aktif terlibat dalam penanganan bencana baik sebelum, pada waktu dan setelah bencana".
Materi pembekalan yang diberikan antara lain :
1. Peta Kawasan Risiko Bencana
2. Penguasaan Aplikasi Andoid
3. Teknik Wawancara
4. Pengisian formulir survey
Selanjutnya Tim MDMC Pacitan yang bertugas disebar ke 82 titik yang telah ditentukan BPBD sebagai bahan untuk Analisis Risiko Bencana.

Ditargetkan tanggal 26-27 seluruh data sudah terkumpul dan di-entry oleh Tim BPBD Pacitan.

Sebuah kepercayaan kepada MDMC Pacitan.....

Lampiran :
Pembagian Lokasi Survey dan Petugas : http://bit.ly/relawan_surveyor_mdmc_pacitan









Penulis :
Agus HP (Ketua MDMC Pacitan)

Rabu, 17 Januari 2018

Relokasi Warga Korban Bencana Banjir dan Longsor (bagian 2)


Memasuki tahap pembangunan rumah warga korban longsor di lokasi relokasi, Dusun Pojok Desa Wonoanti, Tulakan, Pacitan. Dukungan dari MDMC  Blitar tetap berlanjut.

Peninjauan tempat, pertama kali oleh Bpk Marmin Siswoyo, penasehat PDM Blitar. Kemudian disusul kedatangan team relawan 18 personel untuk meratakan lahan dengan support penuh dari MDMC  Pacitan.

Dilanjut kedatangan team kedua sebanyak 6 personel. Setelah lahan siap, datang team ketiga sejumlah 16 relawan, yang hari ini (17/01/18) sudah memulai pengecoran slub pondasi.

Selaian bantuan tenaga yang sangat berarti bagi korban, setiap kedatangan team relawan, juga membawa bantuan material bangunan dan konsumsi,  sehingga sangat meringankan bagi Mdmc maupun korban bencana.

Dukungan masyarakat sekitar juga terus berdatangan,  dengan ikut kerjabakti mulai menyiapkan lahan,  sampai tahap pembangunan ini.

Relawan Blitar,  saat ini dipimpin langsung oleh Sigit Prasetyo, ketua MDMC Blitar yang juga putra tertua Pak Sis.

Dengan penuh semangat dan rasa persaudaraan yang tinggi, mereka bahu membahu untuk menyelesaikan relokasi 4 warga yang menjadi korban bencana ini.



Penulis : 
Moh. Isa Ansori, M.Pd.I dari Wonoanti Tulakan

Selasa, 16 Januari 2018

Relokasi Warga Korban Bencana Banjir dan Longsor (bagian 1)

MDMC Pacitan, Relokasi 4 warga desa Jatigunung Kec.Tulakan

Bencana tanab longsor yang menimpa warga Desa Jatigunung mengakibatkan mereka harus pindah rumah, karena rumah sebelumnya hancur tertimbun tanah longsor. Untuk itu, MDMC Pacitan, mencoba membantu proses relokasi ini dengan mengupayakan penyediaan tanah di Dusun Pojok Desa Wonoanti.

Setelah lahan siap, kemudian dimulai pengerjaannya hingga proses relokasi saat ini sudah pada tahap pondasi dan pemasangan besi cor.

Rencana awal adalah sekedar menyiapkan lahan, sebagaimana diminta oleh pemerintah, bagi korban yang harus pindah tempat atau rumahnya tidak bisa ditempati lagI. Namun berdasar musyawarah bersama, Pengerjaan berlanjut dan saat ini sudah dimulai pondasi calon rumah.


Pengerjaan relokasi rumah warga Desa Jatigunung yang berada di Desa Wonoanti ini didukung juga oleh Keluarga Pak Sis/Mas Sigit - yang kesehariannya salah satu unsur Pimpinan pada Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Blitar. Inilah yang disebut One Muhammadiyah One Response.
 
Keempat warga yang akan menempati lokasi ini adalah Pak Tukiran, Pak Miseni, Pak Slamet dan Pak Sogini.


Penulis : 
Moh. Isa Ansori, M.Pd.I dari Wonoanti Tulakan

Senin, 15 Januari 2018

Pelantikan Bernuansa Bencana



Barangkali inilah pelantikan PDNA terunik yang terjadi di Jawa Timur. Pasca bencana banjir dan tanah longsor yang melanda daerah kabupaten Pacitan, melecutkan semangat PDNA untuk mengadakan pelantikan pengurus Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah kabupaten Pacitan periode 2016-2020 di posko bencana, MDMC Pacitan, Ahad (14/1/18).  Di antara tumpukan barang-barang bantuan sembako dari berbagai daerah, tempat itu disulap menjadi tempat pelantikan dan pelatihan.
Endang Sumiati,M.Ag, sebagai ketua terpilih mengatakan bahwa pelantikan ini sebagai tindak lanjut dari Musyda PDNA yang dilaksanakan satu bulan yang lalu.
“Kami bersyukur di tengah bencana kami bisa mengadakan musyda dengan persiapan yang sangat singkat, dan hari ini bisa melaksanakan pelantikan yang dirangkai dengan pelatihan trauma healing.” ungkapnya.
Sementara Wakil  Ketua MDMC, Bambang Setio Utomo mengatakan bahwa bencana banjir justru membangunkan beberapa ortom yang tertidur.
“Barangkali inilah berkah bencana hingga beberapa ortom  terbangun dari zona amannya. Berkah lainnya bahwa MDMC bisa bergandengan tangan dalam menangani korban banjir dengan berbagai ortom.  ini bukan hanya satu bagian ortom, tapi milik semua ortom untuk berpartisipasi menjadi relawan. Terimakasih NA juga turut berperan dalam pemulihan bencana.” ujarnya.
Kegiatan yang melibatkan para guru TK/RA se Kabupaten Pacitan ini mendapat apresiasi positif dari ketua PD Muhammadiyah yang diwakili oleh Mustofa.
“Kami memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada PDNA yang mengadakan pelantikan hari ini. Hal ini menunjukkan bahwa NA Pacitan siap menghidupkan organisasi, siap melakukan sebuah pergerakan. Organisasi dikatakan hidup kalau ada pergerakan, ada kegiatan, tandasnya. 
Kehadiran ketua PDA juga menyemangati para pengurus NA dengan mengajak bersama-sama menghidupkan organisasi di bawah Muhammadiyah ini. Pada kesempatan itu, Rum Suwati, ketua PDA mengucapkan kepada pengurus lama yang telah bersama-sama melaksanakan program kerjanya dan mengajak kepengurusan yang baru bisa bersama-sama melakukan pengkaderan yang baik.
“Kader PDNA ini yang akan melanjutkan keperngurusan di PDA, oleh karena itu kami berharap pengkaderan PDNA bisa terkondisikan dengan baik sehingga bisa menjadi kader PDA nantinya.” Ungkap Rum.
Pelantikan dipimpin langsung oleh PWNA yang diwakili oleh Ima. Para terlantik mengucap sumpah dan janji menjalankan amanah sesuai program kerja yang diprogramkan.
Pesan mendalam disampaikan Ima yang juga pengurus PDNA Ponorogo. ”Manuk glathik cucuke biru,  bar dilantik ojo turu. Ketika kita sudah bangun jangan tidur lagi. Untuk membangun dakwah persyarikatan, ayo bersemangat membangun NA dengan 3 basis, yaitu NA berbasis tauhid, NA berbasis media, dan NA berbasis ilmu pengetahuan.” sambutnya mantap.

Setelah pelantikan acara dilanjutkan dengan pelatihan trauma healing bersama Eko Hardiansyah, M.Psy Psycholog. Dekan Fakultas Psyichologi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo ini mengajak peserta pelatihan dengan metode Psychologi Alfatihah.
“Ciri – ciri orang yang hidupnya serius ada tiga, yaitu selalu bahagia, sabar dan semangat.”  Kata psyicholog yang pernah mengikuti pelatihan di Singapura pada kegiatan Advanced Training Choice Theory/ Reality Therapy tahun 2017 ini.
Ditegaskan oleh Eko dalam pelatihan tersebut ada tiga sifat Alloh dalah Surat Alfatihah, yaitu Rahman Rahim,  Robbul alamiin, dan penguasa hari pembalasan. Inilah yang mendorong kita akan menjalani hidup kita serius dan bahagia.



(kontributor: Sri Hartati, PDNA Pacitan).


Minggu, 14 Januari 2018

Risiko Bencana dan Kekuatan Lokal

Tanggal 22-25 October 2012, Yogyakarta terpilih menjadi tuan rumah onferensi Tingkat Menteri se-Asia untuk Pengurangan Risiko Bencana yang kelima (Fifth Asian Ministerial Conference on Disaster Risk Reduction-AMCDRR). Tema yang diangkat tahun ini adalah penguatan kapasitas lokal untuk pengurangan bencana serta membahas dampak kerugian bencana di seluruh wilayah Asia. Yogyakarta dipilih karena dianggap tangguh dan berhasil menanggulangi kejadian bencana  Gempa Bumi tahun 2006 serta Letusan Merapi 2010.
Pengurangan resiko menjadi agenda penting dunia dan terus menerus diarusutamakan di setiap negara karena jumlah bencana serta akibatnya tidak menurun tetapi semakin meningkat dari tahun ke tahun.  Dari total 302 bencana besar di dunia, 137 bencana terjadi di Asia dan khussu di Asia, kerugian ekonomi yang diderita akibat bencana melebihi 294 miliar dolar Amerika Serikat (AS) dari total estimasi 366 miliar dolar AS. Isu pengurangan resiko juga telah menjadi kesepakatan dunia seperti yang dituangkan dalam Kerangka Aksi Hyogo atau Hyogo Framework for Action (2005-2015) yang mempunyai semangat “Membangun Ketangguhan Bangsa-Bangsa dan Komunitas-Komunitas dalam Kebencanaan”
Di Indonesia pengurangan resiko bencana (PRB) telah dituangkan dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.  PRB diartikan sebagai upaya untuk mengurangi potensi kerugian yang ditimbulkan akibat bencana pada suatu wilayah dan kurun waktu tertentu. Kerugian tersebut dapat berupa kematian, luka, sakit, jiwa terancam, hilaaangnya rasa aman, mengungsi, kerusakan atau kehilangan harta, dan gangguan kegiatan masyarakat. PRB juga sering diartikan sebagai efektifitas pelaksanaan upaya mitigasi dalam mengurangi resiko dari bencana oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah melalui pendekatan struktural dan non struktural.
Pendekatan struktural dapat dilakukan seperti pembangunan infrastuktur untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya bencana, seperti misalnya pembangunan dam, tanggul, dan kanal untuk mengantisipasi banjir, penguatan atap untuk mengantisipasi badai dan topan, pendirian bangunan yang tahan gempa. Sementara pendekatannon struktural melalui upaya seperti relokasi penduduk ke daerah yang lebih aman, regulasiatau aturan seperti tata ruang,serta penguatan kelembagaan pendidikan publik, peningkatan partisipasi masyarakat dan lain sebagainya (Godschalk dkk: 2005, Schwab dkk:2005).
Jika dikaitkan dengan tema AMCDRR ke 5, penguatan kapasitas lokal ini menjadi penting karena masyarakat tidak hanya dapat mengandalkan negara atau dalam hal ini pemerintah pusat untuk menanggulangi berbagai bencana yang dialami baik skala besar maupun kecil.  Masyarakat seringkali harus melakukannya sendiri.  Oleh karena itu untuk meningkatkan ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana perlu dilakukan dengan berbagai strategi: pertama, meningkatkan pengetahuan dan pendidikan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang potensi, ancaman dan resiko kerugian bencana baik jiwa maupun material. Upaya ini dapat dilakukan melalui sekolah, kelompok atau komunitas yang ada di masyarakat seperti kelompok pengajian, komunitas ibu-ibu dan remaja, kelompok profesi seperti arsitek, developer, paramedic, hingga pekerja di lapangan seperti tukang bangunan, dan para penyuluh di komunitas.
 
Kedua, peningkatan kapasitas untuk manajemen pengurangan resiko dan kerentanan bencana yang mencakup manajemen sumberdaya alam dan lingkungan, penghidupan maupun pembangunan yang berkelanjutan, perlindungan sosial dan lain sebagainya. Peningkatan kapasitas ini juga dapat dilakukan dengan menggunakan best practices atau contoh serta pembelajaran terbaik dari praktek-praktek pengurangan resiko bencana yang dilakukan komunitas di daerah atau Negara lain. Peningkatan kapasitas ini penting untuk menekan sesedikit mungkin kerugian jiwa dan material serta terganggunya kegiatan ekonomi dan sosial saat bencana terjadi.
 
 Ketiga, penguatan kapasitas lokal juga dapat dilakukan secara kelembagaan. Upaya ini diantaranya adalah melakukan peningkatan kapasitas pemerintah lokal secara kelembagaan berupa pelatihan pengkajian resiko, perancanan komunikasi hasil kajian serta peningktana sumberdaya lainnya.  Di samping pemerintah lokal, masyarakat atau komunitas juga dapat ditingkatkan kapasitas kelembagaan untuk bekerja bersama-sama dalam melihat resiko, meningktkan kesiapsiagaan serta memiliki ketrampilan untuk melakukan kegiatan tangggap darurat serta rehabilitasi jika bencana terjadi. Jika upaya ini dilakukan, ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana sebagai tujuan dari pengurangan resiko dapat terpenuhi.
 
 
 
Penulis adalah Dosen Fisipol, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta & Wakil Ketua Lembaga Penanggulangan Bencana PP Muhammadiyah . Dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat tgl 27 Oktober 2012

Sabtu, 13 Januari 2018

Atasi Trauma Korban Banjir dan Longsor, Psikologi UMM Kirim Relawan ke Pacitan

Bencana banjir dan tanah longsor yang menerjang Pacitan, Jawa Timur pada akhir November lalu menjadi perhatian masyarakat Indonesia khususnya provinsi Jawa Timur termasuk Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Hal ini terbukti dengan dikirimnya dua tim relawan yang tergabung dalam Pusat Konseling Trauma (PKT) Fakultas Psikologi UMM pada Selasa (5/12) dan Kamis (7/12) bekerjasama dengan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) dan Himpunan Psikologi (HimPsi) Malang.
Rektor UMM, Fauzan menyampaikan langkah ini menjadi bukti nyata pengabdian UMM untuk Indonesia. Ia juga berharap, program ini menjadi uswah atau contoh kepedulian terhadap masyarakat.
“Yang dilakukan kawan-kawan MDMC itu sejalan dengan misi yang diemban UMM, yakni Dari Muhammadiyah Untuk Bangsa”, tegas Fauzan.
Secara rinci, Dekan Fakultas Psikologi UMM, Muhammad Salis Yuniardi menjelaskan bahwa tujuan dari PKT Fakultas Psikologi UMM adalah untuk menangani kasus psikososial yang ditimbulkan oleh bencana atau konflik.
 “PTK Psikologi UMM sendiri sudah berdiri sejak 2001 dan sudah menangani berbagai macam kasus – kasus psikososial seperti tragedi DOM Aceh, Tsunami Aceh, Gempa Padang, Gempa Jogja, Kerusuhan Jember hingga terakhir saat ini adalah Banjir dan Longsor Pacitan”, jelas Salis.
Tim yang dikirim, lanjut Salis, adalah alumni dan mahasiswa Fakultas Psikologi, serta dibawah supervisi dosen. Tim 1 yang diberangkatkan, bertugas melakukan asesmen serta identifikasi keperluan untuk penanganan kasus psikososial yang terjadi.
Sementara Tim 2 akan membawa perlengkapan dan menangani secara langsung kasus yang terjadi dari data yang diberikan Tim 1.
 “Untuk menangani kasus psikososial karena bencana maksimal 10 hari. Namun jika tanggap bencana diperpanjang, setelah 10 hari tersebut tim yang bertugas akan digantikan dengan tim baru, dan kami sudah siap dengan Tim 3 jika memang diperlukan”, sambungnya.
Salis juga menambahkan bahwa trauma psikologis dalam bencana pasti terjadi dan membutuhkan penanganan yang komprehensif. Ia juga berharap semoga kontribusi yang dilakukan oleh PKT Fakultas Psikologi UMM menjadi manfaat bagi korban bencana.
“Kami juga berharap, ini bisa menumbuhkan jiwa kerelawanan pada mahasiswa dan alumni Psikologi UMM serta meningkatkan kompetensi mereka saat menghadapi realita di masyarakat”, pungkas Salis. (iel/sil)

Di Pacitan, Lembaga Penanggulangan Bencana Muhammadiyah Kembali Terbukti Responsif dan Amanah

PWMU.CO – Hiruk pikuk dan mobilitas tinggi dalam penerimaan dan pendistribusian bantuan ke lokasi bencana banjir dan longsor Pacitan oleh Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC atau Lembaga Penanggulangan Bencana milik Muhammadiyah)–Pacitan tidak bisa diragukan lagi.
Ketua MDMC Pacitan Agus Hadi Prabowo menyampaikan kecepatan penerimaan, penyaluran, hingga pelaporan bantuan diakui oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
“Pelaporan manajemen di MDMC Pacitan ini dirasa yang paling rapi dibanding organisasi kebencanaan lain,” ungkapnya.
Ditemui di Gedung Dakwah Muhammadiyah (GDM) Pacitan, Sabtu (9/12/17), dia mengaku setiap hari, lokasi dan sasaran bantuan selalu dilaporkan ke BPBD Pacitan termasuk ke Komando Distrik Militer (KODIM) 0801 Pacitan.
“Lah, kalau di MDMC Pacitan ini memang lengkap, rapi, dan selalu update. Seperti pelaporan Jum’at (7/12/2017) lalu, jam 22.00 dilaporkan langsung ke kantor BPBD Pacitan dan Kodim 0801 Pacitan,” paparnya.
Lebih lanjut, Sekretaris MDMC Pacitan Nurolin menunjukkan bukti pelaporan. “Ini buku ekspedisi yang membuktikan kami melaporkan secara langsung je kantor BPBD dan Kodim,” ujarnya.
Semangat menolong tiada henti! (Emil Mukhtar Efendi/TS)



https://www.pwmu.co/45024/2017/12/di-pacitan-lembaga-penanggulangan-bencana-muhammadiyah-kembali-terbukti-responsif-dan-amanah/

Alasan Muhammadiyah Bentuk Lembaga Penanggulangan Bencana

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Penanggulangan bencana menjadi salah satu bagian dari pengaplikasian semangat menolong kesengsaraan umum dalam kehidupan nyata. Maka itu, Lembaga Penanggulangan Bencana Muhammadiyah (MDMC) dibentuk secara khusus sejak 2010 lalu.
Ketua MDMC, Budi Setiawan, mengatakan sesuai dengan teologi Al-Ma'un maka orang-orang yang harus ditolong adalah mereka yang tidak terperhatikan dan membutuhkan bantuan. “Bukan hanya anak yatim dan orang miskin, tapi juga masyarakat korban bencana yang mengalami keterpurukan,” katanya, saat ditemui di kantor PP Muhammadiyah, Jalan Cikditiro Yogyakarta, Selasa (9/5).
Hingga saat ini, MDMC telah berdiri di 20 provinsi dan siap melakukan tindakan penanggulangan bencana secara cepat tanpa melihat latar belakang korban bencana. Karena pada dasarnya setiap manusia wajib ditolong, meskipun memiliki perbedaan ras dan agama.
“Seperti saat bencana Sinabung, kita juga bergerak walau sebagian besar warga di sana non Muslim,” kata Budi. (Baca: Klinik Muhammadiyah Jangkau Daerah 3T)

Penanggulangan bencana pun tidak hanya dilakukan pada korban, melainkan juga pada penguatan sarana prasarana kesehatan, seperti rumah sakit siaga bencana. Awalnya MDMC telah melatih empat rumah sakit siaga bencana di Palembang, Bantul, Lamongan, dan Pondok Kopi Jakarta.
Namun seiring berjalannya waktu, kebutuhan terhadap pelatihan tersebut terus bertambah. Sehingga saat ini ada delapan rumah sakit siaga bencana yang bergerak di bawah pembinaan MDMC. Bahkan belum lama ini MDMC baru saja memberi pelatihan rumah sakit siaga bencana pada jaringan rumah sakit Kristen.
Saat ini, MDMC fokus pada peningkatan kapasitas kemampuan dan sertifikasi relawan tanggap bencana. Pasalnya hal tersebut sangat penting agar relawan yang bertugas di lapangan dapat menjalankan perannya dengan baik tanpa menimbulkan risiko atau bahaya bagi diri mereka sendiri.
Setidaknya sekarang MDMC memiliki 150 pelatih dan relawan penanggulangan bencana yang sudah memiliki sertifikat dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Mereka terdiri dari berbagai macam cluster. Termasuk relawan community development yang bertugas mendampingi pemulihan ekonomi masyarakat korban bencana.
Namun demikian, menurut Budi, sekarang gerakan MDMC lebih fokus pada pengurangan risiko bencana. Maka itu MDMC membuat divisi khusus bernama Pengurangan Risiko Bencana dan Kesiapsiagaan (PRBK). “Lebih baik bagi kita mencegah bencana dari pada melakukan penanggulangan saat bencana sudah terjadi,” kata Budi.



http://www.republika.co.id/berita/nasional/sang-pencerah/17/05/13/opptk0368-alasan-muhammadiyah-bentuk-lembaga-penanggulangan-bencana

Tentang MDMC

Lembaga Penanggulangan Bencana Muhammadiyah (Bahasa Inggris: Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC)) merupakan lembaga Muhammadiyah yang bertugas untuk mengkoordinasikan mobilisasi sumberdaya dalam Tanggap Darurat Bencana, Mitigasi dan Kesiapsiagaan Bencana dan Rehabilitasi Pasca Bencana. Sehingga dalam pelaksanannya diperlukan komunikasi dan koordinasi dengan Seluruh Jajaran Pimpinan, Majelis, Lembaga, Amal Usaha, Organisasi Otonom dan Kader Muhammadiyah. Selain itu juga bekerja sama dengan lembaga SAR di Indonesia.